Gado-gado

Berani Menduda atau Berani Durhaka?

Posted by Bams

Rumah dibelikan orangtua
Mobil disiapkan orangtua
Kerjaan dicarikan orangtua.
Usaha dimodali orangtua.
Pas giliran ada masalah dikit, ngeluh “hidup ini memang perjuangan, masalah kok datang silih berganti”

Sebelum lanjut, perlu aku ksh catatan bahwa tulisan ini bukan menyindir siapapun, bukan pula untuk menyakiti. Tapi, jujur ini aku harapkan jadi tamparan keras untuk siapapun yg merasa biasa saja, tanpa berdosa menggerogoti harta orangtua demi kepentingannya sendiri.

Tak ada yang salah dengan semua pemberian itu. Selama orangtuanya mampu tak jadi masalah. Silakan saja, toh harta2 mereka juga. Bukan harta negara, apalagi hartaku.

Tapi kalau di masa senja mereka kamu masih saja ada di ketiak mereka, masih netek urusan duit dan hutang, maka itu masalah!

Bukankah mereka juga berhak hidup bahagia? Bukankah untuk itu mereka memberimu segalanya? Supaya mereka bisa merdeka, menikmati sisa usia yang tinggal hitungan jari tanpa direcoki urusan rumah tangga anaknya??

Kapan lagi mereka bisa beribadah dengan tenang tanpa direpotkan urusan hutang2 anaknya? Kapan lagi mereka bisa mengumpulkan bekal untuk kehidupan berikutnya jika harus ikut dipusingkan dengan tingkah polah anak dan menantunya?

Sedangkan di masa ketika mereka membesarkanmu. Mereka selalu berusaha tersenyum di depanmu. Meskipun masalah datang bertubi-tubi. Supaya apa? Supaya kamu tidak ikut merasakan kesusahan mereka.

Kita patut berpikir dan merasa berdosa kalau karena kita bapak dan ibu saling tak bicara. Bapak belain anak, sementara ibu pengennya ngasih pelajaran. Ataupun sebaliknya.

Pernah mikir ga, ada buanyak sekali anak yang tidak pernah mencicipi harta atau fasilitas mewah dari orangtuanya. Atau merasakan modal untuk usaha atau kemudahan mendapatkan pekerjaan karena orangtuanya punya orang dalam.

Hidup yg sebenarnya ga sesederhana hidupmu, jangan lebay!!

Pesan moralnya adalah:

Kita mati akan membawa dosa kita masing-masing, bukan dosa orang lain atau bahkan dosa sodara. Tapi ingat, orangtua akan kena getahnya kalau gagal mendidik anak dengan pengetahuan agama. Atau mereka terpaksa berurusan dengan riba karena memenuhi tuntutan anaknya.

Sebaliknya, anak akan kena hisab ketika ia menyengsarakan bapak dan ibunya untuk alasan sekecil apapun. Aku bukan panitia syurga, tapi ini adalah rule of the game yang mendasar. Kalau tidak diterapkan, maka Allah menjadi tidak adil. Bagaimana mungkin Allah berlaku tak adil?? Mustahil!

Syukuri jika kita mendapatkan bnyak kemudahan dari orangtua. Manfaatkan, bukan dihabiskan. Lalu muliakan mereka, bahkan jika itu sudah dilakukan, percayalah belum cukup untuk membalas kasih sayang mereka kepadamu selama ini.

Buka matamu, karena ada jutaan anak yang harus berjuang sendiri untuk kehidupannya. Merekalah yang paham betul apa makna perjuangan.

Terakhir, istri atau suami adalah penyempurna iman kita. Tapi, kalau perilaku dan tindak tanduknya cuma mendatangkan keburukan, kita punya pilihan untuk meninggalkannya.

Jangan sampai istri/suami menjadi penyebab sengsaranya ibu dan bapak. Ambil keputusan, berani duda atau berani durhaka. Kita bebas memilih, tapi tidak dengan konsekuensinya.

Yuk, muliakan orangtua kita. Mau mereka ngasih warisan atau tidak. Ngasih modal atau tidak. Ngasi rumah ataupun tidak. Karena di setiap kebaikan entah rejeki, kesehatan, dan umur yg panjang, itu berkat doa yang dipanjatkan oleh ibu dan bapak kita.

Related Post

Leave A Comment

17 + 15 =