Gado-gado

Kampanye #AyoHijrah Bank Muamalat Indonesia Mengajak Umat untuk Bebas dari Riba

Posted by Bams

#AyoHijrah Bank Muamalat Indonesia
AyoHijrah Bank Muamalat Indonesia, mengajak masyarakat Indonesia untuk hijrah dari bank konvensional ke bank syariah. Kehadiran bank secara umum memang memberikan manfaat yang dirasakan oleh nasabah melalui layanan yang disediakan dan dapat memudahkan berbagai transaksi seperti, kredit, tabungan, mengirim uang dan lain sebagainya. Namun, bank konvensional menetapkan bunga dalam takaran tertentu dan hal tersebut tidak boleh dilakukan karena termasuk dalam praktek riba.

Karena itu bank syariah hadir untuk menjawab persoalan nasabah atau bank yang masih memiliki praktek riba di dalamnya. Maka dari itu Bank Muamalat mengajak masyarakat Indonesia untuk hijrah menggunakan bank syariah melalui AyoHijrah Bank Muamalat Indonesia. Kampanye #AyoHijrah ini pertama kali diperkenalkan pada 8 Oktober 2018. Dengan tagline tersebut Bank Muamalat mengajak agar masyarakat Indonesia berhijrah secara kaffah. Tidak hanya hijrah dalam hal ibadah atau ritual keagamaan namun juga termasuk dalam pengelolaan keuangan. 
Sebelum membahas lebih jauh kampanye AyoHijrah Bank Muamalat Indonesia pertama-tama marilah kita mengenal perbedaan-perbedaan bank konvensional dengan bank syariah.

Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah 

Saat ini perkembangan bank syariah sudah semakin pesat, hal ini juga dipengaruhi oleh kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai yang perlu diterapkan dalam kehidupan. Seperti yang kita ketahui, dalam sudut pandang Islam transaksi dalam bank konvensional mengandung riba yang sudah jelas dalil larangannya. Maka dari itu, bank syariah hadir sebagai solusi bagi umat untuk mengelola keuangan tanpa perlu terlibat dengan riba. Namun, selain praktek riba, tahukah Anda perbedaan lain antara bank konvensional dan bank syariah? 
Ada banyak hal mendasar yang membedakan bank konvensional dengan bank syariah. Aspek hukum merupakan perbedaan yang menonjol di antara keduanya. Dalam bank konvensional, hukum yang berlaku adalah hukum positif, yaitu perdata dan pidana yang berlaku di Indonesia. 
Sedangkan bank syariah mengacu pada hukum syariah islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits serta fatwa ulama (MUI). Selain itu, bank syariah memiliki dewan pengawas syariah yang terdiri dari ulama dan ahli ekonomi yang juga mengerti fiqih muamalah. 
Jadi apabila pada bank syariah terdapat transaksi yang tidak sesuai dengan syariat Islam atau mengandung riba maka akan mendapatkan teguran atau sangsi dari badan pengawas syariah tersebut.
Selanjutnya, hubungan antara pihak bank dan nasabah dalam kedua bank tersebut pun berbeda. Hubungan bank syariah dengan nasabahnya merupakan hubungan kemitraan. 
Pihak bank memperlakukan nasabah layaknya mitra dengan perjanjian yang transparan. Sedangkan bank konvensional memperlakukan nasabah layaknya kreditur dan debitur. Maka tidak heran apabila hubungan bank syariah dengan nasabah memiliki hubungan emosional yang erat dengan pihak bank yang memberikan fasilitas pembiayaan.
Selain itu, perbedaan lain di antara keduanya adalah perbedaan dalam pembagian keuntungan. 
Dalam bank syariah, pihak bank dan nasabah membuat akad tentang sistem pembagian keuntungan yang menjadi awal dari hubungan kedua belah pihak. Tentu saja, dalam kesepakatan tersebut pihak bank telah menimbang kemungkinan untung dan rugi yang akan didapatkan. 
Sedangkan bank konvensional menerapkan sistem bunga pada setiap pinjaman yang diberikan pada nasabah dalam bentuk bunga tetap maupun mengambang. Dalam artian, pihak bank konvensional menganggap bahwa usaha pinjaman tersebut akan selalu memberikan untung. 
Hal-hal lain yang membedakan bank konvensional dengan bank syariah adalah investasi usaha dan orientasi keduanya. Bank konvensional berinvestasi pada berbagai jenis usaha tanpa terkecuali, sedangkan bank syariah hanya berinvestasi pada jenis usaha halal. Jadi, apabila usaha tersebut mengandung unsur yang tidak sesuai dengan syariat islam, maka usaha tersebut tidak bisa menikmati layanan bank syariah kecuali ada perbaikan-perbaikan yang dilakukan hingga usaha tersebut halal.

Kampanye AyoHijrah Bank Muamalat Indonesia

Setelah membahas perbedaan bank konvensional dengan bank syariah, tentunya Anda saat ini telah mengetahui perbedaan dari kedua bank tersebut bukan? karena hal itu, Bank Muamalat mengajak masyarakat Indonesia untuk beralih menggunakan bank syariah untuk pengelolaan keuangan tanpa riba.
Sebagai bank syariah pertama, Bank Muamalat mengkampanyekan penggunaan bank syariah sebagai bentuk hijrah dalam pengelolaan finansial. AyoHijrah Bank Muamalat Indonesia diisi dengan berbagai kegiatan edukasi seperti seminar tentang perbankan syariah, open booth kegiatan masyarakat, kajian islami serta pemberdayaan masjid sebagai salah satu agen perbankan syariah.
Kampanye #AyoHijrah ini dilatarbelakangi oleh semangat dalam berhijrah dan menerapkan ajaran islam secara kaffah, bukan hanya ibadah atau ritual keagamaan. 
Namun, terus meningkatkan diri ke arah yang lebih baik dengan menerapkan syariat islam pada berbagai lini kehidupan manusia. Dengan kampanye tersebut, Bank Muamalah yang merupakan bank murni syariah mengajak masyarakat untuk berhijrah dalam layanan perbankan atau pengelolaan keuangan dengan memanfaatkan perbankan syariah agar lebih berkah. 
Dalam kampanye #AyoHijrah ini Bank Muamalat bertujuan untuk mewujudkan cita-cita dalam menyetarakan nasabah bank supaya memiliki kesejahteraan dan kemakmuran agar setara dengan kondisi rakyat Indonesia yang notabene adalah mayoritas muslim. Untuk itu dalam mengajak masyarakat berhijrah ke bank syariah, Bank Muamalat akan mengisi kampanye #AyoHijrah dengan berbagai kegiatan menarik, seperti seminar dan workshop. 
Melalui gerakan tersebut Bank Muamalah bercita-cita ingin menjadi pusat ekosistem perekonomian syariah di Indonesia. Serta membangun industri halal dengan memanfaatkan teknologi. Kampanye tersebut tentu selaras dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang mayoritas adalah muslim. Sehingga sistem pengelolaan keuangan yang berdasarkan syariat islam merupakan hal yang diperlukan guna mewujudkan keislaman yang kaffah.
Berbagai layanan dan transaksi dalam bank syariah dikawal dan diawasi oleh dewan pengawas syariah.

Apa itu Bank Muamalat Indonesia

Bank Muamalat sendiri merupakan pelopor bank syariah yang berdiri pada tahun 1992. Bank Muamalah memiliki dewan pengawas syariah sebagai pengawal dan pengawas dalam pengelolaan bank tersebut. Adanya dewan pengawas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjaga prinsip-prinsip keislaman dalam ekonomi syariah, sehingga dalam pelayanan yang disediakan sesuai dengan prinsip islam dan fiqih muamalah.

Selain itu, Bank Muamalah adalah bank yang tidak menginduk pada bank lain. Ia berdiri sendiri sebagai bank syariah sehingga hal ini dapat menjaga kemurnian syariahnya. Untuk lebih mengetahui bagaimana bentuk dan semangat AyoHijrah Bank Muamalat Indonesia ini Anda dapat melihatnya pada website Bank Muamalah atau akun resminya.

Produk-produk Bank Mualamat sudah dinikmati jutaan penduduk Indonesia, antara lain
Tidak terlibat dengan riba bukan hanya sekedar prinsip perbankan syariah, namun juga harus menjadi prinsip bagi umat muslim di Indonesia. Dengan tidak terlibat riba, maka akan membuat hidup lebih nyaman karena tidak dibebankan bunga tetap atau mengambang kepada nasabah. Selain itu, terlepas dari riba juga membuat kehidupan menjadi lebih berkah.
Sebagai seorang muslim, keberkahan hidup adalah hal yang sangat didambakan dan keberkahan tersebut bisa dicapai salah satunya dengan meninggalkan transaksi riba yang dilarang dalam kacamata islam. Untuk itu, berhijrah kepada bank syariah bisa menjadi pilihan tepat bagi Anda yang menginginkan transaksi perbankan yang sesuai syariat Islam.

Pengalaman Buruk Berhutang di Bank Riba

Saya dulunya terbilang pribadi yang gemar berhutang, karena memang saya terpapar informasi dan juga lingkungan yang tak masalah dengan hutang. Di tahun 2007 saya terjebak kredit mobil yang waktu itu bulanannya mencapai Rp 4 juta. Di dua tahun awal, usaha saya masih stabil, jadi cicilan juga lancar. Tapi memasuki bulan ketiga, tiba-tiba usaha mulai seret dan akibatnya berimbas pada keteraturan pembayaran cicilan.
Setelah menunggak 3 bulan, saya mendapatkan beberapa kali peringatan dari pihak bank. Debt collector pun sudah mendatangi rumah hingga rumah mertua karena saya terus berkilah. Sampai akhirnya di bulan kelima, mobil saya ditarik tanpa ada penggantian satu peser pun. Dengan kata lain, uang puluhan juta yang saya bayarkan selam dua tahun plus uang muka, sirna begitu saja. Saya harus terima sebagai konsekuensi memilih cara riba untuk mendapatkan harta.
Sekarang saya belum 100% terbebas dari riba, karena rumah masih KPR di bank plat merah. Tetapi insyaAllah saya berniat melunasinya dan tidak melakukan kesalahan yang sama. Pelan-pelan, saya yakin bisa.
Demikian bahasan tentang kampanye #ayohijrah dari Bank Mualamat, semoga bisa menjadi inspirasi teman-teman pembaca sekalian…
Wassalam
Informasi produk Bank Muamalat bisa dilihat di web resminya: https://www.bankmuamalat.co.id 
dan informasi tentang #AyoHijrah di tautan ini: https://www.bankmuamalat.co.id/seputar-ayo-hijrah

Related Post

Leave A Comment

18 − 7 =