Kenapa Banyak Orang Masuk Islam?

By

Pada tahun 1980-an, jumlah umat Islam mencapai 90% lebih dari total penduduk Indonesia. Memasuki tahun 2000-an, angka itu terus menurun.

Menurut Wikipedia, hasil sensus 2010 menyebutkan bahwa penduduk Indonesia yang beragama Islam sebesar 87%. Meski tetap mayoritas, tapi dibanding tahun-tahun sebelumnya, tentu saja ini adalah indikasi menurunnya jumlah kaum muslimin di Indonesia.

Salah satu penyebabnya adalah pemurtadan yang dilakukan berbagai pihak, terutama kepada umat Islam yang kondisi ekonominya berada di bawah rata-rata.

Angka itu belum termasuk mereka yang memilih ateis dan agnostik tapi tetap mencantumkan Islam sebagai agama pada data diri mereka. Sebab Indonesia hanya mengakui enam keyakinan, yang membuat orang-orang ini terpaksa menentukan pilihan, sekadar memenuhi kewajiban sebagai warga negara.

Meski demikian, apakah Umat Islam patut khawatir? Waspada tentu saja, karena ini menyangkut akidah. Tapi atas berkurangnya jumlah pemeluk agama Islam, kita tak perlu khawatir. Sebab Allah telah menjanjikan bahwa agama ini tidak mungkin hilang dari muka bumi.

“Sungguh agama Islam ini akan sampai ke bumi yang dilalui oleh malam dan siang. Allah tidak akan melewatkan seluruh kota dan pelosok desa, kecuali memasukkan agama ini ke daerah itu, dengan memuliakan yang mulia dan merendahkan yang hina. Yakni memuliakan dengan Islam dan merendahkannya dengan kekufuran.” (HR Ibnu Hibban 1631, 1632).

Di Indonesia memang banyak Muslim yang keluar dari agama Islam atau murtad. Tapi di belahan dunia lain, jumlah kaum muslimin justru bertambah. Fenomena ini sudah pernah terjadi sejak lama.

Bertambahnya Pemeluk  Islam Karena Perang Salib

Pada masa Perang Salib (1095-1492), misalnya. Dalam banyak peperangan kecilnya, jika suatu daerah dimenangkan oleh kaum muslimin, maka penduduk yang tidak beragama Islam hanya diusir dari wilayah tersebut.

Berbeda jika Tentara Salib yang berhasil menguasai suatu wilayah, maka penduduk yang beragama Islam akan dibantai habis, dari bayi hingga lansia.

Melihat kenyataan itu, sejarawan, penulis, dan orientalis pada masa tersebut beranggapan Islam adalah agama yang akan punah. Hal itu sejalan dengan logika manusia pada umumnya.

Maka orang-orang yang merasa perlu mengabadikan “sejarah” Islam, kemudian mempelajari agama tersebut dengan maksud sebagai kenang-kenangan. Mereka mempelajari untuk kemudian dituliskan, agar generasi mendatang tahu bahwa dulu pernah ada agama bernama Islam di dunia ini.

Ternyata, lewat orang-orang inilah jumlah pemeluk Islam bertambah. Mereka yang tadinya mempelajari tentang Islam sekadar untuk menambah literatur keilmuan, justru tertarik pada apa yang mereka pelajari, bahkan akhirnya menjadi bagian dari Islam itu sendiri.

Jumlah Umat Islam Meningkat Pasca 9/11

Di zaman modern, kita tentu tak lupa pada peristiwa 9/11 yang terjadi 11 September 2001. Serangan teroris ke beberapa sarana penting Amerika Serikat ini menewaskan setidaknya 3.000 jiwa.

Kelompok militan Islam Al-Qaeda di bawah pimpinan Osama bin Laden dituding sebagai dalang penyerangan ini, dengan motivasi dukungan Amerika Serikat pada Israel, sanksi terhadap Irak, dan keberadaan tentara AS di Arab Saudi.

Meski belakangan banyak kejanggalan terhadap peristiwa 9/11 dan bahkan tentang Al-Qaeda dan Osama bin Laden sendiri, masyarakat dunia telanjur memberi stigma negatif terhadap Islam berkat skenario hebat tersebut.

Banyak ahli yang meragukan keterlibatan Al-Qaeda pada penyerangan, terutama ke gedung Pentagon. Selain itu, sosok Osama bin Laden sendiri dianggap fiktif oleh banyak pihak. Belum lagi “gaya” runtuhnya menara kembar WTC di New York yang tak sesuai layaknya bangunan yang ditabrak oleh pesawat.

Terlepas dari berbagai teori konspirasi yang ada, Islam kemudian menjadi momok. Sejak peristiwa 9/11, kerap terjadi penyerangan tanpa alasan terhadap warga Muslim di Amerika dan Eropa. Bahkan di Indonesia, negara dengan mayoritas penduduk Muslim, label teroris kerap disematkan kepada mereka yang rajin beribadah.

Pertanyaannya, apakah kemudian Islam mengalami kemunduran? Sama sekali tidak. Orang-orang justru penasaran terhadap ajaran Islam. Apa benar ada agama yang mengajarkan terorisme?

Hal itu kemudian membuat tidak sedikit dari pembenci Islam yang kemudian berbalik menjadi pemeluk agama yang sempurna ini.

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya. (As-Shaff 8).

Palestina dan Jepang

Tragedi kemanusiaan terpanjang setelah Perang Dunia 2, penjajahan atas Palestina, menurut logika seharusnya mampu menghabiskan sekian persen jumlah umat Islam di dunia.

Nyatanya, populasi Palestina sendiri tak mengalami pengurangan berarti meski berkali-kali dibombardir oleh Israel. Menurut data statistik pada 2017, setiap satu jam, ada 6 bayi lahir di Gaza. Artinya satu bayi per 10 menit!

Hidup dalam kondisi perang, di bawah bayang-bayang peluru dan rudal. Anak-anak Palestina tetap bersekolah dan belajar agama dengan baik. Uniknya lagi, angka bunuh diri di negara ini jauh di bawah negara-negara maju.

Padahal yang kita tahu, semakin rendah ekonomi, semakin tertekan warganya. Dan bunuh diri dianggap solusi praktis. Tapi teori itu tidak berlaku di Palestina, terutama Gaza secara khusus.

Justru Jepang dan Korea Selatan sebagai negara maju, yang angka kematian karena bunuh dirinya menempati posisi tertinggi di dunia. Ternyata materi bukan satu-satunya sumber kebahagiaan. Sebab jika bahagia, mana mungkin seseorang memutuskan untuk bunuh diri.

Menurut Profesor Kesehatan Mental di King Abdulaziz University, Yazeed Mohammed Al Shehri, semakin religius seseorang, maka ia akan semakin bahagia (republika.co.id).

Sebagaimana di Eropa dan Amerika, di Jepang orang-orang pun merasa penasaran terhadap Islam. Ini adalah bagian dari efek 9/11, yang kemudian beralih pada pencarian akan kebahagiaan dari sisi spiritual yang umumnya kering di Jepang.

Tidak ada sejarah agama yang kuat di Jepang. Kebanyakan masyarakat terikat pada budaya, bukan agama. Inilah yang menyebabkan banyak di antara mereka merasakan kekosongan dalam hidup. Pada tahun 2018, penduduk Jepang yang beragama Islam berjumlah sekira 160.000 (tempo.co). Tidak banyak, tapi peningkatannya mencapai 25 kali lipat dari 50 tahun lampau.

Jika kita kembalikan pada apa yang dijanjikan Allah lewat Al-Qur’an dan hadis, perkembangan Islam di banyak negara yang semula dikuasai nonmuslim saat ini, telah menjadi bukti yang nyata.

Ternyata selain rasa penasaran, pencarian akal, dan kebutuhan manusia akan aturan yang benar, rupanya kehendak Allah-lah yang menjadikan agama ini tak pernah hilang. Islam akan selalu ada, sebesar apa pun upaya musuh-musuh Allah untuk menghancurkannya.

Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. (Al-Maidah 3)

Karena jaminan dari Allah bahwa Islam akan selalu ada, maka kita tak perlu khawatir dengan banyaknya mereka yang keluar dari agama ini. Karena akan lebih banyak lagi yang bergabung menjadi bagian kaum muslimin dunia.

Yang yang perlu kita khawatirkan adalah iman dan amal kita secara pribadi. Apa yang telah kita perbuat untuk Islam karena Allah. Sebab untuk yang terakhir ini, tidak ada jaminan kecuali dari apa yang kita upayakan. Allahua’lam.

Leave a Comment