Gado-gado

Ketika Pohon Kehilangan Rumah, Kita Mau ke Mana?

Posted by Bams
source: travelerien.com

Hutan merupakan ekosistem yang penting untuk berlangsungnya kehidupan semua makhluk. Tidak hanya hewan dan tumbuhan saja yang menggantungkan hidupnya kepada hutan, manusia pun membutuhkan hutan.

Tetapi di sisi lain banyak pihak yang juga memiliki kepentingan terhadap hutan. Malahan, sejumlah oknum seolah tanpa dosa menebang pohon hingga gundul, tergantikan dengan pemukiman dan bangunan komersil.

Yang lebih menyedihkan, sejumlah oknum juga melakukan pembakaran lahan secara brutal. Tidak ada lagi penangkal banjir, pemberi kesejukan, tempat habitat hewan dan tumbuhan bisa hidup secara aman dan bebas. Tanpa disadari pun banyak dampak yang kita rasakan akibat kerusakan hutan, seperti dampak asap, resiko bencana alam bajir, longsor, konflik hewan buas dan lain sebagainya.

Komitmen dan teori yang telah dibangun sejak lama untuk memperbaiki hutan yang gundul, moratorium, dan kebijakan lain terkait hutan menjadi janji yang tak jua diwujudkan. Malahan akses untuk menambang hutan justru seolah dipermudah, tak perduli lagi dengan penduduk yang tinggal di sekitar hutan. Betapa mereka harus merasakan dampak akibat ulah pihak di luar wilayah mereka. Adilkah ini? Siapa sebenarnya yang harus bertanggung jawab terhadap kerusakan-kerusakan tersebut?

Kerusakan Masif Hutan di Indonesia

Fakta yang ironis mengingat Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Hutan memegang peranan penting untuk menjaga kestabilan iklim dunia. Hal ini didukung oleh data FAO tahun 2010 yang menunjukkan bahwa hutan di dunia, termasuk hutan di Indonesia, menyimpan 289 gigaton karbon

Menurut data dari WWF antara tahun 2004 – 2007 ditemukan lebih dari 400 spesies baru dalam ilmu sains di Pulau Kalimantan. Bisa Anda bayangkan ketika terjadi kerusakan hutan, maka berapa ribu spesies yang tempat tinggalnya ikut terancam.

Berdasarkan catatan Kementrian Kehutanan Republik Indonesia, sekitar 130 juta hektar hutan yang tersisa di Indonesia, 42 juta diantaranya sudah habis ditebang. Penyusutan lahan hutan di Indonesia tercatat sedikitnya 1,1 juta hektar atau 2% per tahun dari total hutan di Indonesia.

Kerusakan hutan di Indonesia terjadi karena berbagai sebab, diantaranya penebangan liar, alih fungsi lahan menjadi perkebunan, kebakaran hutan dan eksploitasi hutan untuk pengembangan wilayah pemukiman, industri, dan perambahan.

Dampak yang paling berpengaruh adalah terganggunya keseimbangan ekosistem hutan dan lingkungan sekitar, seperti konflik ruang antara satwa liar dan manusia. Satwa – satwa liar akhirnya turun mencari makan di wilayah pertanian manusia, sehingga merugikan para petani dan warga sekitar.

Isu deforestasi menjadi concern dunia, tetapi Indonesia menjadi salah satu yang paling disorot karena Indonesia merupakan negara yang memiliki hutan tropis yang besar. Di skala global, Indonesia menduduki posisi kelima dalam daftar negara dengan kehilangan tutupan pohon terbesar. Sejak 2001 hingga 2014, Global Forest Watch melihat Indonesia sudah kehilangan 18,91 juta Ha hutan. Pada periode yang sama, Rusia, yang menempati posisi teratas, kehilangan 42,13 juta ha hutan, disusul oleh Brasil yang kehilangan 38,77 juta Ha.

Sementara itu, menurut riset Kementerian LH&K, kendati di periode 2009-2011 hingga 2013-2014, deforestasi di Indonesia menunjukkan tren yang menurun. Tetapi di tahun 2014-2015, luas lahan deforestasi naik tajam hingga 901.300 ha. Artinya, terjadi peningkatan sebesar tiga kali lipat dari periode sebelumnya yang tercatat sebesar 397.400 ha.

Apa Dampak Kerusakan Hutan Bagi Ekosistem?

Pemenang Foto Jurnalistik Anugerah Adiwarta | foto Jessica Helene Wuysang / Antara

Foto memilukan di atas hanya segelintir dari petaka yang ditimbulkan oleh kerusakan hutan, pembalakan liar dan pembakaran hutan secara serampangan. Menurut data tahun 2008, tak kurang dari 56.000 orang utan hidup di alam liar Kalimatan. Tetapi aktivitas liar para pembakar dan pembalak membuat populasi orang utan saat ini tersisa 30.000 – 40.000 saja.

Tak cuma itu, bayi-bayi orang utan yang dirawat di pusat rehabilitasi Nyaru Menteng mengalami masalah kesehatan akibat terpapar kabut asap hasil pembakaran hutan.

Dampak kebakaran hutan tidak hanya menyebabkan habitat hewan liar terganggu, tapi juga memberikan dampak masif yang sangat merusak. Berikut adalah dampak yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan.

Kerusakan Hutan di Jambi dan Dampaknya

Kawasan hutan di Jambi seluas 2,1 juta hektare mengalami kerusakan sebesar 40% atau sedikitnya 871.776 hektare dalam tiga tahun terakhir. Sekda Provinsi Jambi, M. Dianto, menjelaskan bahwa kerusakan hutan dan lahan sudah tersebar pada semua fungsi kawasan sehingga menjadi suatu ancaman serius bagi daya dukung Daerah Aliran Sungai (DAS), baik fungsinya sebagai penyangga kehidupan maupun peran hidrologis DAS.

Sekda Provinsi Jambi dikutip dari Tribun Jambi juga mengemukakan bahwa kerusakan hutan di Provinsi Jambi cenderung semakin tinggi dan meningkat seiring dengan meningkatnya konversi hutan menjadi areal perkebunan dan hutan tanaman industri (HTI), maraknya pembalakan liar, dan tidak terkendalinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Namun menurutnya kerusakan fungsi hutan dan lahan yang diidentifikasi sebagai lahan kritis di Indonesia berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. SK.306/Menlhk/PDASHUDAS./07/2018 tentang Penetapan Lahan Kritis Nasional, luas lahan kritis nasional berdasarkan data tahun 2018 adalah 14.006.450 Ha.

Kasus karhutla di Provinsi Jambi ini sudah terjadi sejak 3 tahun terakhir yang mengakibatkan semakin berkurangnya kawasan hutan di Jambi. Namun sejak 2 bulan terakhir warga Jambi mendapatkan dampak dari asap karhutla hingga mengganggu aktivitas warga. Penyebab karhutla selain karena faktor musim kemarau yang lebih panjang, juga karena pihak pemilik lahan yang membuka lahan hutan dengan cara membakar hutan.

Sejak 3 tahun terakhir ini pun pemerintah sudah memberikan peringatan kepada warga, khususnya pemilik lahan, bahwa membuka lahan dengan cara membakar hutan adalah sebuah cara yang salah. Namun tetap saja hal itu tetap tidak dihiraukan. Penanganan karhutla bukanlah semata-mata tanggung jawab pemerintah, tetapi juga para pemilik lahan yang membuka lahan perkebunan.

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Dendang, Berbak, dan Sadu hingga saat ini belum bisa dipadamkan karena kondisi api yang besar dan akses jalur darat yang sulit akibat jarak pandang dari kabut asap yang semakin tebal. Semakin pekatnya kabut asap di Jambi ini pun membuat Pemerintah Kota Jambi mengeluarkan kebijakan untuk meliburkan siswa-siswi sekolah mulai dari Pendidikan Usia Dini (PAUD), TK, dan Sekolah Dasar (SD) mulai dari kelas 1 hingga kelas 4.

Kebijakan pemerintah untuk meliburkan para siswa tersebut karena meningkatnya jumlah anak yang terkena ISPA. Kabut asap yang semakin pekat mulai terasa pada malam hari hingga pagi hari, dimana kualitas udara pada malam hari bisa memasuki level tidak sehat hingga berbahaya. Menurut warga Kota Jambi, tidak hanya kabut asap yang mereka rasakan, tetapi juga abu yang mulai berjatuhan meski tidak begitu parah. Selain mengganggu pernafasan, kabut asap ini juga mengganggu pandangan warga saat berkendara,baik sepeda motor atau mobil.

Kondisi kabut asap di Jambi per 11 September 2019 

 

Banyaknya warga yang mengalami gangguan pada pernafasan ini juga berpengaruh pada penuhnya antrian puskesmas dan rumah sakit di Kota Jambi. Mulai dari anak-anak hingga orang tua merasakan sakit karena sesak nafas, batuk, mata perih, dan tenggorokan sakit. Meski mereka sudah mengurangi aktivitas di luar rumah, tetapi masih tetap terkena dampak dari kabut asap.

Oleh karena itu, pemerintah pun menghimbau warga Jambi untuk selalu menggunakan masker saat bepergian dan menjaga pola hidup sehat, seperti mencuci tangan dulu sebelum makan, mencuci sayuran dan buah-buahan sebelum dimasak atau dimakan.

Infografis kebakaran hutan di Indonesia, sumber: aktualitas.id

Dampak lain dari bencana kabut asap di Jambi ini adalah banyaknya penerbangan dari Jambi dan ke arah Jambi yang dibatalkan karena kondisi cuaca dan jarak pandang yang tidak memungkinkan untuk penerbangan.

Pihak Bandara Internasional Supadio Pontianak menegaskan bahwa pada Hari Senin (9/9/2019) sudah ada 2 penerbangan yang terpaksa dibatalkan, yaitu penerbangan ke Bandara Tebelian, Sintang, Kalimantan Barat. Selain itu, penerbangan ke Bandara Rahadi Oesman Ketapang dan ke Bandara Pangsuma, Kapuas Hulu, mengalami delay.

Menyedihkan… Jambi Hanya Punya 18% Tutupan Hutan

Baru-baru ini, Warsi melakukan pemindaian  citra satelit dan mendapati tutupan hutan di Jambi tinggal 920 ribu hektare atau 18 persen dari total luas wilayah Provinsi Jambi. Angka ini tentu bukan angka ideal, bahkan berada di bawah syarat minimum keseimbangan ekosistem yaitu 30 persen. Ketidakseimbangan ini merupakan hasil dari alih fungsi hutan untuk berbagai peruntukan.

Wilayah Jambi saat ini sudah didominasi oleh kelapa sawit, menguasai 1,8 juta hektare lahan, serta Hutan Tanaman Industri (HTI) seluas 776.652 hektare dan area dengan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) seluas 67.140 hektare.

Perubahan Dimulai dari Gerakan, Bukan Retorika

Saya termasuk yang percaya bahwa perubahan hanya bisa dicapai dengan gerakan, bukan retorika belaka, bukan sebatas wacana dan teori saja. Gerakan tak harus masif, karena yang besar diawali dari yang kecil. Yang kecil-kecil itu kemudian akan menciptakan gugus demi gugus kekuatan sehingga memberikan dampak yang besar suatu saat ini.

Gerakan itu akhirnya datang pada bulan Agustus lalu, ketika beberapa tokoh dari Yayasan Doktor Sjahrir,  Climate Reality Indonesia dan juga APP datang menjenguk kami para blogger dan netizen di Jambi.

Pertemuan kami kemudian diejawantahkan dalam sebuah acara seminar dan diskusi berupa pemaparan-pemaparan materi terkait hutan, pemberdayaan hasil hutan dan lain sebagainya.

Pada acara “Forest Talk With Netizens Jambi, Menuju Pengelolaan Hutan Lestari” yang berlangsung di SwissBel hotel Jambi pada tanggal 31 Agustus 2019, hadir beberapa tokoh, antara lain Dr. Amanda Katili Niode selaku Manager The Climate Reality Indonesia, kemudian Dr. Atiek Widayati dari Tropenbos Indonesia, Ibu Elly Telasari dari APP dan Bapak Amril Taufik Gobel selaku moderator acara. Serta tak boleh dilupakan, turut serta bersama rombongan yaitu travel blogger kenamaan, Mbak Ieeen alias Mbak Kat alias mbak Katerina, banyak panggilannya walaupun aslinya orangnya mungil.

Nah, kedatangan rombongan ini berasa makin “menggigit”, apalagi temanya tentang hutan, karena di saat yang bersamaan Jambi kembali kedapatan jatah kabut asap akibat kebakaran hutan di banyak titik potensial. Isu yang setiap beberapa tahun sekali berulang lagi dan lagi.

Pembukaan

Sesuai jadwal, jam 9-an pagi acara Forest Talk With Netizens Jambi dimulai, diawali dengan pembukaan oleh moderator, Bapak Amril Taufik Gobel.

Menjelaskan sedikit tentang misi event, Bapak Amril kemudian langsung saja mempersilahkan pembicara untuk menyampaikan paparannya satu per satu sembari mengingatkan peserta untuk mengikuti live Tweet dan Instagram.Sedangkan informasi mengenai kegiatan yang sudah digelar oleh tim bisa dibaca di situs Lestarihutan.id.

Sesi Dr. Amanda Katili Niode – Manager The Climate Reality Indonesia

Dr. Amanda Katili Niode

Dr Amanda menyoroti mengenai kondisi bumi saat ini, bahwa bencana – bencana yang terjadi diakibatkan oleh kegiatan – kegiatan manusia itu sendiri yang berlebihan, seperti kegiatan pertambangan berserta pabriknya, proses industri, pemupukan, transportasi, produksi minyak dan pembakaran hutan. Ditambah dengan emisi gas rumah kaca yang membuat pemanasan global berdampak pada bumi yang semakin sekarat beserta elemen di dalamnya.

Dampak perubahan iklim juga terjadi di Amerika, dimana beberapa tahun terakhir suhu terus turun hingga mencapai -40 derajat Celcius akibat suhu yang terus memanas. Selain itu di Australia suhu panasnya mencapai +50 derajat Celcius. Suhu yang ekstrim itu membuat badan juga tidak enak. Perubahan iklim yang terbilang cukup ekstrim ini berkaitan juga dengan fungsi hutan di dunia yang sudah mulai hilang.

Cuaca yang ekstrim itu sebenarnya tidak hanya terjadi di Amerika dan Australia saja, bahkan seluruh penduduk dunia merasakan suhu yang tidak biasa. Saya pun merasakannya, dimana cuaca sangat panas sekali di waktu siang tapi malam hingga menjelang pagi akan begitu dingin. Cuaca ini tidak enak untuk badan dan mengganggu sistem kekebalan tubuh, jika stamina tubuh Anda sedang menurun maka Anda akan mudah terkena penyakit.

Indonesia sendiri tercatat sejak tahun 2018 sudah mendapatkan bencana sebanyak 2481 kasus, dimana 97% hidrometeorologi dan 10 juta orang harus menderita dan terpaksa mengungsi. Bisa kita amati banyaknya longsor, banjir, dan bencana – bencana lain akibat perubahan ekosistem yang berdampak pada kehidupan kita. Malahan ada juga beberapa daerah yang sering kali mengalami kekeringan disaat sudah memasuki musim penghujan.

Presentasi Ibu Amanda dalam acara itu pun memperlihatkan bahwa penggunaan lahan / kehutanan menyumbang 61,6% emisi gas rumah kaca. Melihat fungsi hutan yang turut andil dalam emisi gas rumah kaca bukan lah angka yang kecil, sudah sepantasnya kita menjadikannya elemen yang penting dari bumi yang harus dijaga dan dilestarikan.

Saya pun teringat dengan pembicaraan orang tua pada jaman dulu yang mengatakan bahwa bumi ini sudah tua dan mulai sekarat. Kalimat itu tidak salah sepenuhnya, tetapi ternyata yang menyebabkan bumi tak seperti dulu juga manusia – manusia itu sendiri. Menurut Ibu Amanda pun demikian, semua yang terjadi itu tentu saja karena ulah manusia yang tamak dan berlebihan. Eksploitasi sumber daya alam, emisi gas rumah kaca, pemanasan global dari industri membuat perubahan iklim yang berdampak pada adanya bencana dan bagi penghidupan setiap komponen yang ada di bumi.

Ironisnya, eksploitasi dan kegiatan yang berdampak buruk terhadap lingkungan tidak datang dari satu bidang saja, tapi di banyak sektor dan skala. Di skala kecil, misalnya pertanian. Regulasinya ada, batasannya ada, tapi pengawasan yang lemah membuat oknum-oknum tidak bertanggung jawab dengan mudahnya membuka lahan secara brutal, membakar lahan tanpa mempertimbangkan dampaknya. Murah jadi kambing hitam mengapa keberingasan itu dilakukan.

Di sektor yang lebih masif, misalnya eksploitasi batu bara lewat tangan-tangan rakus para penambang. Kegiatan industri yang bernilai jutaan dollar itu masih jadi favorit di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Jambi. Faktanya, kegiatan ini terjadi secara masif dan kontinyu. Ibu pertiwi kita tak diberi kesempatan untuk meremajakan dirinya dahulu.

Di sektor “seksi” lain, transportasi. Ini juga menjadi PR bagi kita semua sebagai penghuni bumi. Moda transportasi yang ada belum menggunakan energi terbarukan, di mana sebagian besar berdampak buruk terhadap kualitas udara dan mengeruk habis sumber daya alam melalui pertambahan minyak bumi secara masif. Selain pada ketiga bidang tersebut, masih banyak pada bidang industri lainnya yang menyebabkan perubahan iklim dan menambah emisi gas rumah kaca. Oleh karena itu, diperlukan tindakan khusus dan upaya agar bencana tidak terus terjadi. Jangan sampai perubahan iklim juga membuat mencairnya permafrost atau lapisan es yang tetap membeku di bawah tanah daerah kutub.

Apa solusinya?

Dr Amanda mengelompokkan dalam dua hal yang bisa jadi solusi akan permasalah di atas, yaitu Mitigasi dan Adaptasi.

Mitigasi: Upaya memperlambat proses perubahan iklim global dengan mengurangi level gas-gas rumah kaca di atmosfer dan mengurangi emisi dari kegiatan manusia
Adaptasi: Mengembangkan berbagai cara untuk melindungi manusia dan ruang dengan mengurangi kerentanan terhadap dampak iklim dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim global

Sesi Dr. Atiek Widayati dari Tropenbos Indonesia

Dr. Atiek Widayati

Topik pengelolaan hutan dan lanskap berkelanjutan juga dibahas di sesi kedua acara talk show tersebut dengan pembicara Ibu Atiek Widayati dari Tropenbos Indonesia. Beliau membahas bagaimana kebakaran hutan di lahan gambut Jambi dan di daerah-daerah lain di Indonesia yang merugikan banyak pihak.

Pembahasan dimulai dari seberapa luas area hutan yang mengalami kebakaran hingga berapa biaya yang harus dibutuhkan untuk dapat menyelesaikan kebakaran hutan itu. Cukup ironis melihat fungsi hutan sendiri selain sebagai penyeimbang ekosistem juga sebagai penghasil oksigen dan menyerap karbon dioksida yang ada dalam udara.

Bencana lainnya selain kebakaran hutan, seperti banjir bandang, longsor ataupun satwa yang menyerang pemukiman penduduk terjadi karena deforestasi, degradasi hutan dan adanya konversi hutan. Deforestasi ini adalah perubahan permanen dari areal berhutan menjadi areal tidak berhutan atau tutupan lainnya sebagai akibat dari aktivitas manusia. Sedangkan degradasi hutan adalah bentuk perusakan atau penurunan kualitas hutan (tutupan, biomassa dan atau aspek lainnya).

Akibat dari akumulasi dampak, muncul laporan-laporan dari masyarakat tentang perilaku hewan liar dan buas di sekitar mereka. Hewan yang dilaporkan berupa harimau tersebut bahkan diceritakan sudah membunuh seekor sapi. Kabar ini tentu sangat mengejutkan dan membuat masyarakat merasa terancam. Tapi kebutuhan hidup memaksa mereka untuk tetap bertani di ladang dengan resiko diterkam harimau dari belakang.

Pengelolaan Hutan dengan Lanskap Berkelanjutan

Menurut Ibu Atiek ada beberapa upaya yang bisa menjadi solusi untuk mengurangi dan mencegah dampak dari deforestasi, degradasi hutan, dan konversi hutan. Dibutuhkan sinergi tidak hanya dari pemerintah, tetapi pihak lain, seperti NGO, LSM, sektor swasta, perusahaan perkebunan, dan masyarakat. Kesadaran hendaknya didorong dan dimarakkan lewat program-program yang berkelanjutan. Tapi sejatinya, kita bisa memulai dari hal-hal kecil yang sederhana. Misalnya dengan menyuarakan kampanye akan pentingnya hutan bagi manusia.

Konteks lanskap itu mencakup hutan itu sendiri, kemudian makhluk hidup di dalamnya, sumber air dan tentu saja masyarakat lokal yang ada di sekitar hutan. Ketika konteks ini dipahami, bahwa satu sama lain saling berkaitan dan berdampak, maka akan dicapai kondisi yang seimbang antara pemanfaatan hutan dan reservasinya di masa-masa mendatang.

Tropenbos Indonesia sejak 1986 sudah secara kontinyu melakukan restorasi dan kegiatan go green, dimulai di Kalimantan Timur. Ini adalah bentuk dari keprihatinan akan kerusakan hutan di Indonesia yang akut.

Masyarakat yang bersentuhan langsung dengan masyarakat tentu punya peran dan bisa berkontribusi untuk mewujudkan keseimbangan ekosistem hutan. Cara termudah, adalah dengan mendukung program go green yang sudah ada, misalnya dengan tidak membakar hutan ketika membuka lahan, menggunakan bahan-bahan alam yang terbarukan, berhenti mengeksploitasi hasil hutan terutama pohon-pohon berukuran besar yang menjadi kekuatan hutan, dan mulai menggalakkan kebiasan dan aktivitas penghijauan secara berkelanjutan.

Emisi karbon

Dampak perubahan iklim diakibatkan oleh pengembangan kelapa sawit sangatlah besar, pasalnya pengembangan kelapa sawit berlokasi di wilayah lahan gambut  yang kaya karbon, termasuk di Jambi. Emisi dari deforestasi hutan dan pengurasan atau pengeringan lahan gambut bertanggung jawab atas peringkat Indonesia sebagai salah satu penghasil emisi gas rumah kaca terbesar dunia.

Menurut riset yang dilakukan oleh Patrick Anderson dan Torry Kuswardono pada tahun 2008, ada wilayah konservasi sekitar 4 juta hektar hutan gambut yang diberi izin untuk digubah menjadi perkebunan kelapa sawit dan kayu pulp di Riau, Kalimantan Tengah, Jambi, Papua dan Papua Barat.

Konsekuensinya apa? Tanpa perlu gelar sarjana S3, semua orang bisa menjawab pertanyaan ini dengan mudah. Bahwa kondisi ini akan menambah emisi tahunan CO2 Indonesia sebesar satu miliar ton lagi. Angka ini sudah barang tentu jauh lebih besar di tahun sekarang dan belum akan berhenti di tahun-tahun yang akan datang.

Kembali ke tahun 1997/1998, ketika terjadi kebakaran hutan hebat. Akibat dari kebakaran itu saja, telah terbang sebesar 700 MT CO2 ke udara, atau lebih dari 40% dari total emisi dunia di waktu itu.

Sesi Ibu Murni Titi Resdiana (Asisten Utusan Khusus Presiden Bidang Perubahan Iklim) Digantikan oleh Dr Amanda Katili Niode

Sesi ketiga ini semestinya dibawakan oleh ibu Murni Titi Resdiana (Asisten Utusan Khusus Presiden Bidang Perubahan Iklim), tetapi karena berhalangan hadir, maka presentasi beliau digantikan oleh Dr Amanda Katili Niode.

Dalam upaya memanfaatkan hasil hutan ini juga turut menyumbang ekonomi kreatif. Karena sejatinya pohon yang utama dari hutan bisa menjadi sumber serat, sumber pewarna alami, bahan kuliner, furniture, sumber barang dekorasi, sumber minyak atsiri dan turunannya.

Rotan juga merupakan hasil hutan yang tak kalah banyak manfaatnya, seperti untuk fashion, kerajinan tangan, dan furniture. Selain itu, bagi Anda yang pernah mendengar atau melihat lontar juga banyak digunakan untuk fashion, musik, dan kerajinan.

Pohon lontar tidak hanya bisa diolah untuk kegunaan itu saja. Air yang dihasilkan dari sadapan bunga lontar juga bisa dikonsumsi langsung atau dibuat menjadi gula yang tentu menambah nilai dan pendapatan masyarakat di sana.

Ibu Amanda juga menyebutkan manfaat dari Kaliandra merah yang seperti tanaman semak ini bisa menjadi bahan energi. Sumber olahan palet dari kayunya bisa untuk bahan EBT biomassa pembangkit listrik hingga 10 Megawatt yang ramah lingkungan daripada menggunakan batu bara.

Uniknya, nanas, eucalyptus, bambu, dan pelepah pisang ternyata bisa diolah menjadi serta alami yang bisa digunakan untuk bahan tekstil. Tentu, setelah sampai di tahap tekstil, maka serat-serat tersebut sangat mungkin diproduksi menjadi baju atau celana.

Sesi Ibu Elly Telasari dari APP Sinar Mas

Jujur saja, awalnya saya agak skeptis begitu mendengar nama Sinar Mas. Alasannya, sedikit banyak saya pernah mendengar sepak terjang perusahaan ini, di mana sebagian dari hak pengolahan hutan diepegang oleh mereka dan tentu aktivitas industri tersebut berdampak terhadap ekosistem di hutan tersebut.

Tapi, setelah Ibu Elly Telasari memaparkan tentang Program DMPA yang merupakan singkatan dari Desa Makmur Peduli Api, saya mulai melunak. Saya setuju bahwa masyarakat adat dan lokal harus dilibatkan secara aktif dan postif untuk meredam konflik sosial dan juga sebagai upaya untuk pemberdayaan masyarakat sekitar hutan secara sosial – ekonomi.

Singkatnya masyarakat diajak untuk berperan penting dalam pelestarian hutan dengan diiringi pencapaian kemakmuran secara bersama dan berkelanjutan. Program DPMA di Jambi sendiri selama 5 tahun yang akan datang, dimulai tahun 2016 hingga 2020, menargetkan akan ada 81 desa dengan total budget 16 Miliar yang masing-masing dialokasikan ke dua anak perusahaannya, yaitu PT Rimba Hutani Mas dan PT Wirakarya Sakti. Dengan program ini, setidaknya 5000 KK akan memperoleh manfaat.

Produk-produk Ramah Lingkungan yang Ikut Meramaikan Forest Talk with Netizens Jambi

Dalam acara yang berlangsung cukup lancar tersebut, dihadiri pula oleh beberapa produsen produk yang murni memanfaatkan bahan-bahan dari hutan. Mereka adalah:

  1. Pengrajin berbagai pernak-pernik asli Suku anak Dalam, Rengkerengke
  2. jamur crispy Ragel yang berhasil dikembangkan oleh pemudi desa yang berangkat dari keprihatinannya atas nasib petani jamur di desanya
  3. Kain Vinto, produsen kain dengan serat alam seperti daun pandan hutan, serat pandan, bunga alang-alang, rotan, sutra, getah pisang, kapuk, dan lainnya.

Kreasi Suku Anak Dalam Asli Lewat Brand Rengkerengke

Program binaan yang sudah dimulai sejak kuliah dan berhasil membuat Ali memenangi sebuah lomba ini membuka matanya bahwa ini bisa jadi jalan usaha bagi SAD khususnya. Ali yang mengaku tak punya pengetahuan khusus tentang menganyam kemudian memutuskan untuk mencoba memasarkan produk-produk buatan mereka.

Jadi, produk yang dihasilkan oleh pengrajin-pengrajin rekanan Rengkerengke terbuat dari rotan, resam dan pandan hutan. bahan-bahan alam tersebut diolah, dirajut dan direkatkan sehingga membentuk berbagai macam benda, jadi topi misalnya yang dipakai oleh mbak iyeen ini..

source: travelerien.com

Bisa juga jadi vas bunga berukuran mini.

dan tentunya berukuran besar, sebesar ini.

Story of Rengkerengke

UMKM Rengke pada awal berdirinya digerakkan oleh lima orang mahasiswa Universitas Jambi yang tergabung dalam Al-Ardvici Pinang Masak pada tahun 2010.  Berawal  dari  niat  mengabdikan  diri  pada  masyarakat  dan  sebagai perwujudan dari Tri Darma Perguruan tinggi, maka mereka berupaya untuk mengoptimalkan aktifitas pemberdayaan masyarakat lokal, salah satunya adalah kerajinan anyaman yang dibuat oleh Suku Anak Dalam (SAD). Mereka berupaya meningkatkan  kesejahteraan  masyarakat  melalui  penjualan  produk  kerajinan tersebut.

Proses penjualan dilakukan dengan berbagai cara, secara langsung maupun  tidak  langsung,  yaitu  melakukan  promosi  melalui  berbagai  media. Mereka juga membentuk badan usaha, yang bertujuan menopang pemberdayaan Suku Anak Dalam ini.

Pada awal mula usaha anyaman Rengke ini, terdapat sepuluh orang pengrajin Suku Anak Dalam, yang sebagian besar berusia lanjut. Awalnya para pengrajin ini biasa membuat produk anyaman yang digunakan untuk keperluan sehari-hari, seperti sumpit, ambung dan bakul. Kemudian, melalui pendekatan dan pembinaan dari  tim  UMKM,  maka  para  pengrajin  berhasil  membuat  miniatur  produk anyaman dan juga memvariasikan produk anyamannya.

Luar biasa kan perjuangan Rengkerengke untuk survive? Yuk, jangan biarkan mereka berjuang sendiri, teman-teman bisa membeli produknya di Instagram @rengkerengke.

Jamur Crispy Ragel

Ragel itu bukan nama orang ya, bukan juga nama kucing. Ragel merupakan singkatan dari Rasa Gemilang, pas banget dengan ide gemilang Mita, sang pendiri.

Mita mengaku tergugah melihat para petani jamur di daerahnya yang mengeluh rugi dan bahkan kapok membudidayakan jamur karena harga jualnya yang murah. Sudah murah, susah pula menjualnya.

Teringat akan panganan jamur di Yogyakarta yang pernah ia cicipi, Mita pun tergerak melakukan ujicoba. Setelah melalui berbagai pergelutan batin dan dengan ucapan Bismillah, Ragel pun rilis dan kini sudah secara kontinyu memproduksi jamur crispy dan terus menerima pasokan dari petani-petani di desanya. Keren kan?  Silahkan diorder di Ragel.id, harganya cuma Rp 10.000.

Pokoknya usaha kalau diniatkan membantu orang, mudah-mudahan diberi jalan deh. Sukses terus Ragel!

Kain Bang Vinto

Rasanya produk keren yang satu ini udah tak perlu lagi saya promosikan, karena reputasinya sudah sampai ke Jepang, Jerman dan Italia. Memang hebat kreasi bang Vinto ini. Bernama asli Bustam Effendi, pria asal Muara Bungo ini sukses meracik ramuan untuk mengubah serat-serat alam menjadi kain berkualitas tinggi.

Tak heran jika harga jual kain Vinto ini mencapai jutaan rupiah, karena prosesnya yang sulit dan bahannya yang memang eksklusif. Yang mau kepo-in bang Vinto bisa langsung ke IG beliau di @Kain_Vinto.

Para Pemenang Lomba Live Tweet dan Instagram

Untuk memeriahkan acara, pihak penyelenggara juga menggelar lomba tweet di Twitter dan Instagram. Post paling menarik berhak mendapatkan hadian uang tunai yang jumlahnya lumayan, apalagi untuk anak kos.

Pemenang lomba Twitter Forest Talk with Netizens Jambi adalah akun twitter @ikanuila @sheieka @apatyawanc.

source: travelerien.com

Sedangkan pemenang lomba Instagram adalah @febritriharmoko @masyitharasyid @rubianti_biru. Congrat guys!

source: travelerien.com

Selain itu, penyelenggara juga memberikan hadiah kecil bagi peserta yang mengajukan pertanyaan di sesi tanya jawab.

source: travelerien.com

Selesai kah?

Belum. Masih ada satu kegiatan lagi yang juga cukup menghibur, yaitu demo masak oleh chef hotel tempat digelarnya acara. Baru kemudian setelah itu, makan-makan.

Dokumentasi Momen-momen terbaik Forest Talk With Netizens Jambi Menuju Pengelolaan Hutan Lestari – thanks to Travelerien.com  🙂

Video Liputan FTWN-Jambi

Di tulisan sederhana ini, saya juga ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada seluruh yang terlibat, dua hero di balik layar mas Hendik dan Mbak Gina, ibu Dr. Amanda Katili Niode, ibu Dr. Atiek Widayati, ibu Elly Telasari dari APP, bapak moderator Amril Taufik Gobel, travel blogger yang super aktif dan super kreatif mbak Katerina serta tak boleh dilupakan seluruh teman – teman blogger dan netizen yang berkenan hadir. Kalian semua luar biasa!

Pentingnya Peran Blogger

Melihat fakta – fakta di lapangan bagaimana proses dari perbuatan manusia itu sendiri berdampak besar bagi perubahan iklim, dan melihat kepentingan – kepentingan yang ada sebagai dalih pembenaran atas sikap manusia tersebut, maka tidak cukup jika hanya pemerintah saja yang bergerak. Kebijakan pemerintah tidak dapat dilaksanakan jika tidak didukung oleh pihak – pihak lain.

Begitupun sebaliknya, seberapa bagus program – program masyarakat dan swasta dalam pengelolaan hutan lestari, jika tidak ada payung hukum yang tegas dari pemerintah sebagai sangsi atas pihak – pihak yang mencoba menyalahi peraturan dan kebijakan, maka tidak akan berjalan dengan baik. Kurangnya informasi mengenai program dan kebijakan dari pemerintah dan pihak lain dalam rangka menjaga ekosistem hutan ini pun juga menjadi problem yang harus diselesaikan.

Karena belum tentu semua orang mengetahuinya. Seiring dengan berkembangnya teknologi, informasi itu akan lebih cepat sampai dan tersebar dengan mudah. Asalkan pemerintah tidak menutup akses masyarakat untuk mendapatkan informasi yang valid dan sesuai fakta di lapangan, maka berita akan cepat menyebar.

Salah satunya dengan bantuan para blogger yang peduli terhadap lingkungan. Lewat tulisan – tulisan para blogger inilah informasi itu akan cepat menyebar. Kenapa keberadaan blogger juga turut menyumbang keaktifan masyarakat untuk peduli dengan hutan? Selain media massa tentunya, informasi kini dapat diakses lebih mudah dan lebih cepat dengan internet.

Para blogger pun diharapkan untuk lebih peduli pada lingkungan, karena informasi yang dibutuhkan masyarakat tidak hanya informasi seputar hiburan saja. Peran para blogger dalam menyebarkan informasi yang bermanfaat bagi keberlangsungan hidup sangat menentukan pula bagaimana hutan – hutan ini akan kita selamatkan, karena tidak bisa lagi menunggu nanti dan kelak.

Informasi atau fakta yang ditulis oleh para blogger bisa jadi lebih menarik karena mereka tak memiliki batas dalam mengemukakan pendapat dan mengurai fakta. Hal ini tentunya menjadi berbeda ketika media massa yang menuliskannya, karena sebuah corporate memiliki kepentingan sendiri. Semoga event-event seperti ini akan terus digalakkan, sampai jumpa di kesempatan lainnya.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Menunjuk seseorang sebagai terdakwa tentu sebuah tindakan yang mudah dilakukan, tapi tidak serta merta menyelesaikan masalah hutan yang sudah kadung kompleks. Solusilah yang sudah semestinya jadi fokus kita saat ini.

Ada beberapa hal yang menjadi pemikiran saya yang barangkali bisa jadi daftar solusi.

  1. Perlu dilakukan upaya yang agresif dalam upaya mengamankan wilayah konservasi dan hutan-hutan yang tersisa. Bentuk tim keamanan terlatih dengan jumlah yang memadai dan dibayar secara layak. Untuk mencapai perubahan yang signifikan, pengorbanannya juga jangan nanggung-nanggung.
  2. Buat aturan yang keras dan tegas untuk menopang dan menjadi landasan hukum bagi tim keamanan yang tertuang di poin satu di atas.
  3. Perlunya program-program persuasif yang bersifat mengajak masyarakat untuk mulai peduli dengan linkungan. Berikan alternatif usaha bagi mereka yang sudah turun temurun memanfaatkan hutan secara semena-mena sebagai sumber penghasilan.
  4. Kampanyekan peduli hutan secara masif, gandeng lebih banyak komunitas dan penggiat media sosial untuk ikut menyebarkan sikap empati terhadap hutan.
  5. Kurangi akses terhadap perusahaan-perusahaan yang memanfaatkan lahan hutan sebagai area industri. Apapun alasan dan bargain yang ditawarkan.

Solusi Alternatif

Saya terkesima ketika mendapati sebuah berita yang sudah cukup lama tapi rasanya bisa jadi alternatif solusi yang menarik.

Jadi, sekelompok mahasiswa mahasiswa Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Jember berhasil mengembangkan Power Bank by Gas (POB’s) yaitu sebuah perangkat penyimpan daya yang sumber listriknya murni berasal dari asap.

Cara kerjanya cukup sederhana, asap/uap/panas diserap kemudian dikumpulkan dalam sebuah sensor peltier. Sensor inilah yang kemudian bertugas mengubah panas menjadi daya listrik yang kemudian disimpan di dalam power bank. Menarik dan sepertinya bisa dikembangkan lebih jauh. Sayang empat tahun berlalu power bank inovatif ini belum jelas nasibnya berujung ke mana.

Verdict

Pertanyaan yang tertuang dalam judul ini saya analogikan untuk mewakili pohon yang kehilangan rumah, di mana hutan dengan permadani hijaunya adalah rumah bagi pohon. Jika hutan itu sudah tiada, artinya tergusur sudah rumah bagi pohon-pohon itu. Tak ada lagi tempat berlindung.

Bayangkan pohon-pohon itu tersandera oleh kerakusan. Sementara sudah fitrah baginya untuk memberi manfaat kepada semua makhluk. Tapi bagaimana ia bisa menebar manfaat jika sari patinya dihisap tiada henti?

Sebagai penutup, cukuplah visualisasi di bawah ini jadi nasehat. Semestinya kita sepakat, bahwa praktik membakar hutan adalah musuh kita bersama, ratakan!!

Source: Kumparan

Daftar Referensi:

https://tirto.id/hutan-indonesia-makin-botak-cszC
https://www.kompasiana.com/safitriaisyah/5af8864ecaf7db280a47e042/hutan-sebagai-warisan-untuk-masa-depan
https://kumparan.com/jambikita/dalam-3-tahun-870-ribu-ha-lebih-hutan-di-jambi-rusak-1rnHHNIoJdC
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/01/12/bagaimana-hutan-indonesia-sebagai-paru-paru-dunia-di-masa-depan

https://surabaya.tribunnews.com/2015/10/23/arek-universitas-jember-ubah-asap-jadi-energi-listrik?page=2

Related Post

2 thoughts on “Ketika Pohon Kehilangan Rumah, Kita Mau ke Mana?

  1. iluvtari

    Aku inget cerpenmu dulu. Mayday … mayday ….

  2. Mas Bams

    ku malah lupa yg mana.. hehehe

Leave A Comment

19 + 13 =