Jariyah

Kisah Mualaf: 5 Ilmuwan yang Masuk Islam Karena Penelitiannya

ilmuwan masuk islam
Posted by Bams

Di Indonesia, banyak muslim yang memilih meninggalkan agamanya karena mengaku mendapat hidayah. Salah satu jalan hidayah yang paling populer adalah lewat mimpi.

Mimpi bertemu Nabi Isa, mimpi melihat salib, dsb. Padahal mimpi adalah bunga tidur, tidak semua mimpi memiliki nilai filosofi yang dapat diurai apalagi dijabarkan secara ilmiah.

Berbeda dengan para mualaf di luar sana, yang datang kepada Islam karena pencarian dengan dasar keilmuan. Mereka mendapat hidayah dengan cara lebih elegan, misalnya lewat penelitian. Contoh kecilnya adalah 5 ilmuwan yang memutuskan memeluk Islam karena hasil penemuannya berikut ini.

Jacques yves costeau

ilmuwan masuk islam

Ia adalah seorang oceanographer sekaligus ahli selam asal Prancis yang masuk islam karena penemuannya. Costeau pernah menyelam di berbagai samudra untuk membuat film dokumenter.

Dari sekadar mengagumi keindahan bawah laut, Jacques yves  costeau akhirnya menemukan kumpulan air tawar segar di dalam laut. Hal itu jelas membuatnya heran, bagaimana bisa air tetap tawar di dalam laut yang asin? Seolah ada lapisan yang melindungi, memisahkan air tawar ini dari yang asin di sekitarnya.

Sampai kemudian, Costeau bertemu seorang profesor Muslim. Ia mendiskusikan hasil temuannya tentang kumpulan air tawar di dalam laut tersebut.

Sang profesor kemudian teringat dua ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang pertemuan dua lautan;

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing. (ar-Rahman 19-20).

Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi. (al-Furqon 53).

Mendengar pemaparan tentang ayat tersebut, kekaguman Costeau pada Al-Qur’an melebihi kekagumannya pada keindahan bawah laut. Tidak mungkin kitab suci umat Islam ini ditulis oleh manusia. Ia turun 14 abad silam, di mana belum ada manusia yang melakukan penelitian hingga di kedalaman laut.

Sejak pertemuan itu, Costeau kemudian bersyahadat karena meyakini kebenaran Al-Qur’an.

Maurice Bucaille

Masih dari Prancis, Maurice Bucaille adalah ahli bedah yang lahir pada 19 Juli 1920. Ia merupakan penanggung jawab utama proyek penelitian terhadap mumi Firaun.

Dalam penelitiannya, ia mendapati sisa-sisa garam pada jasad Firaun, yang menunjukkan bahwa mumi tersebut mati tenggelam. Hal ini senada dengan sejarah Nabi Musa vs Firaun yang juga disebutkan dalam berbagai kitab suci.

Tapi masih ada yang mengganjal dalam pemikiran Bucaille. Kenapa jasad Firaun bisa utuh lebih sempurna dibanding mumi lain yang pernah ia tangani?

Setelah Bucaille merilis hasil penelitiannya, Les momies des Pharaons et la midecine (Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern), para ilmuwan autopsi Muslim memberinya jawaban tentang hal yang selama ini mengganjal pikirannya.

Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (Yunus 92).

Membaca ayat tersebut, Bucaille langsung meyakini kebenaran Al-Qur’an. Karena meski kisah Firaun terdapat di beberapa kitab suci, hanya Al-Qur’an yang dapat menjawab pertanyaanya. Kenapa jasad Firaun tetap utuh?

Leopold Werner Von Ehrenfels

ilmuwan masuk islam - Leopold Werner Von Ehrenfels

Ia adalah seorang psikiater dan ahli neurologi berkebangsaan Austria. Sejak kecil Leopold Werner Von Ehrenfels tertarik dengan dunia Timur, yang membuatnya menyambangi negara-negara Balkan dan Turki saat dewasa.

Rolf, begitu ia biasa disapa, kerap masuk ke masjid saat waktu salat, padahal ia sebelumnya adalah seorang Nasrani. Setiap masjid yang ia datangi, menerimanya dengan baik.

Yang menarik perhatian Rolf adalah kewajiban muslim untuk wudu sebelum salat dan mandi wajib setelah junub. Khusus tentang wudu, Rolf mendapatkan kesimpulan dari penelitiannya, bahwa bagian-bagian wudu ternyata adalah titik saraf yang paling peka.

Dahi, tangan dan kaki yang harus dibasuh saat wudu ternyata mengandung saraf yang sensitif terhadap air. Membasuh titik-titik ini secara rutin tidak saja bermanfaat bagi kesehatan, tapi juga meningkatkan konsentrasi dan keselarasan pusat saraf.

Rofl bahkan merekomendasikan wudu untuk semua orang, tak hanya muslim. Dari hasil penelitian dan pengalamannya selama di negara muslim, Leopold Werner Von Ehrenfels akhirnya masuk Islam pada tahun 1927 dan mengganti namanya menjadi Baron Omar Rolf von Ehrenfels.

William Brown

Ia adalah profesor biologi di Carnegie Mellon University. Tahun 1981 William Brown dan tim menerbitkan Journal of Plant Molecular Biologies tentang penemuan, bahwa tumbuhan mengeluarkan suara halus yang tidak dapat didengar manusia.

Suara ultrasonik itu berulang hingga seribu kali dalam satu detik. Oleh para ilmuwan Amerika Serikat yang terlibat dalam penelitian tersebut, getaran ultrasonik diubah menjadi gelombang elektrik optik yang ditampilkan di layar monitor dalam bentuk garis halus.

Garis yang muncul tersebut kemudian diperlihatkan kepada peneliti Inggris, yang di antara mereka adalah seorang muslim.

Hasil konversi getaran ultrasonik ke gelombang elektrik optik memperlihatkan garis-garis yang secara perlahan membentuk lafaz Allah di layar monitor. Melihat hal ini, peneliti muslim dari Inggirs itu kemudian teringat sebuah ayat dalam Al-Qur’an.

Bertasbih kepada-Nya langit yang tujuh, dan bumi (juga), dan segala yang ada di dalamnya. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun, lagi Maha Pengampun. (al-Isra’ 44).

Ia kemudian menghadiahi William Brown sebuah Al-Qur’an terjemah, yang kemudian dipelajari Brown dan mengantarkannya pada Islam beberapa hari setelahnya.

Tejatat Tejasen

Ketua Departemen Anatomi di Universitas Chiang Mai Thailand, Tejatat Tejasen, menulis buku Miracles of Al-Qur’an & As-Sunnah, hasil penelitiannya terhadap reseptor rasa sakit.

Ia masuk Islam saat berada di Riyadh, Saudi Arabia, dalam rangka menghadiri Konferensi Kedokteran ke-5. Tejatat Tejasen terkesima pada ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa orang-orang kafir di neraka dibuatkan kulit yang baru agar mereka dapat merasakan azab.

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (an-Nisa 56)

Hal ini sesuai dengan ilmu pengetahuan medis modern, yang mana jika pasien mengalami luka bakar, maka dokter akan menguji dengan menusukkan jarum kecil ke bagian kulit. Jika pasien merasa sakit, berarti lukanya tidak terlalu dalam. Sebaliknya, pasien tidak akan merasa sakit jika reseptor rasa sakit yang ada di bawah kulit telah rusak.

Bagi Tejatat Tejasen, Al-Qur’an jelas bukan buatan manusia. Tidak mungkin pengetahuan sejauh itu sudah dikenal sejak 1400 tahun lalu kalau bukan oleh Yang Mahatahu. Sejak keislamannya, Tejatat Tejasen semakin sering mempelajari Al-Qur’an untuk mencari rahasia alam yang belum ia ketahui.

Para ilmuwan di atas hanya sedikit di antara sekian banyak orang pilihan Allah yang membuktikan bahwa Islam sesuai dengan ilmu pengetahuan. Bukan agama buatan manusia, yang harus direvisi secara berkala mengikuti perkembangan zaman.

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (Fushilat 53).

Semoga bermanfaat, dan dapat meningkatkan keimanan kita pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Related Post

Leave A Comment

five + eighteen =