Gado-gado

Mendalami Kisah di Balik Kumpulan Puisi Chairil Anwar

Chairil Anwar
Posted by Bams

Sekilas Tentang Chairil Anwar

Siapa tak kenal Chairil Anwar? Dialah pujangga Indonesia yang pendek usia hidup tapi panjang usia karyanya. Kumpulan puisi Chairil Anwar mudah ditemukan di toko buku dan belantara internet.

Lahir di Medan pada 26 Juli 1922 dari pasangan asal Sumatra Barat. Chairil Anwar bersama ibunya hijrah ke Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1940. Meski anak tunggal, Chairil Anwar bukan sosok yang manja. Ia sudah memantapkan hati menjadi seniman saat usianya baru 15 tahun.

Setamat dari HIS (Hollandsch-Inlandsche School) dan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), Chairil Anwar memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan. Meski demikian, ia mampu menguasai tiga bahasa asing; Inggris, Belanda, dan Jerman.

Beberapa Puisi Chairil Anwar

Kumpulan puisi Chairil Anwar yang ada saat ini berawal dari puisi bertajuk Nisan, puisi pertama Chairil Anwar yang dimuat media. Puisi ini terinspirasi dari peristiwa wafatnya sang nenek.

Chairil Anwar melihat sebuah kematian sebagai sesuatu yang dahsyat dan tak bisa ditolak siapa pun. Puisi ini juga menunjukkan sedikit keinsafan sang penyair, bahwa setiap manusia pasti mati.

Nisan

Bukan kematian benar menusuk kalbu

Keridlaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu

Dan duka maha tuan bertakhta

Oktober, 1942

Sebagaimana penyair umumnya, Chairil Anwar juga melepaskan kegalauan hatinya lewat karya. Di antara kumpulan puisi Chairil Anwar, ada satu puisi yang menggambarkan kesenduan seseorang yang tengah patah hati.

Judulnya  Senja di Pelabuhan Kecil. Puisi ini dipersembahkannya untuk Sri Ayati, seorang gadis sesama penyiar radio Jakarta Hoso Kyokan (sekarang RRI). Chairil Anwar jatuh cinta pada Sri Ayati, tapi sampai akhir hayat tak pernah menyatakan perasaannya kepada yang bersangkutan.

Ia sering bertandang ke rumah pujaan hatinya tapi tidak menyatakan apa pun. Sehingga Sri Ayati tidak mengetahui perasaan yang dimiliki Chairil Anwar. Sampai kemudian, Sri melarang Chairil datang ke rumahnya, sebab ia telah bertunangan dengan seorang dokter.

Sejak saat itu Chairil memang tidak lagi menyambangi Sri. Ia melepaskan kegundahan dengan berjalan-jalan ke pantai. Sampai di sebuah pelabuhan di Sunda Kelapa, Chairil melihat suasana pelabuhan yang muram, sama seperti perasaannya. Maka terhanyutlah Chairil Anwar terbawa suasana dan perasaan tersebut. Lalu lahirlah puisi berikut ini.

Senja di Pelabuhan Kecil

Buat Sri Ayati

 

Ini kali tidak ada yang mencari cinta

di antara gudang, rumah tua, pada cerita

tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut

menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

… (dst hingga akhir puisi).

Orang mengenal Chairil Anwar dengan julukan “Si Binatang Jalang”. Sebutan ini tentu bukan pada makna yang sebenarnya. Julukan itu justru didapat dari karya Chairil sendiri.

Dalam puisinya yang berjudul Aku, Chairil menyebut dirinya binatang jalang. Puisi ini menceritakan kegigihan seorang Chairil Anwar dalam menuliskan sajak-sajak yang kerap mendapat penolakan.

Konon, pilihan kata yang dipakai Chairil dalam setiap puisinya kebanyakan tidak disukai penguasa kala itu. Meski demikian, Chairil yakin suatu saat karyanya akan diakui dan dikenang banyak orang.

Keyakinan Chairil Anwar terbukti. Walaupun ia sudah tiada, karyanya menjadi bahan perbincangan, dinikmati sekaligus dipelajari sepanjang sejarah kesusastraan Indonesia.

Aku

Kalau sampai waktuku

Aku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulan yang terbuang

… (dst).

Puisi Aku pertama kali dibacakan Chairil Anwar di Pusat Kebudayaan Jakarta pada Maret 1943. Di antara sekian banyak puisinya, Aku adalah yang paling populer di Angkatan 45.

Kumpulan puisi Chairil Anwar kebanyakan bertutur tentang kematian, tapi ternyata ada pula yang mengisahkan tentang sosok pahlawan.

Bersama Puisi Aku yang dikumpulkan dalam buku kumpulan puisi Aku Ini Binatang Jalang, terdapat sebuah puisi patriotik dengan kalimat yang lugas dan sederhana.

Chairil Anwar ingin mengangkat kembali semangat perjuangan Bangsa Indonesia dengan mengangkat tokoh Pangeran Diponegoro dalam karyanya.

Pangeran Diponegoro adalah pahlawan nasional asal Jawa Tengah. Keberaniannya menumpas Belanda telah menginspirasi Chairil Anwar dalam menghasilkan puisi kepahlawanan di bawah ini.

Diponegoro

Di masa pembangunan ini

Tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali

Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang semangat yang tak bisa mati

(dst).

Puisi fenomenal berikutnya dari penyair legendaris ini adalah Karawang Bekasi, yang ditulis tahun 1948. Puisi ini disebut-sebut sebagai gambaran kepedihan atas peristiwa pembantaian di Desa Rawagede yang terletak antara Karawang dan Bekasi.

Pembantaian oleh Belanda tersebut terjadi pada Juli 1947 dan memakan korban nyawa rakyat Indonesia lebih dari 400 jiwa.

Karawang Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi

tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,

terbayang kami maju dan mendegap hati?

… (dst).

Kumpulan puisi Chairil Anwar lainnya yang tak kalah populer adalah Doa, Yang Terampas dan yang Putus,

Doa

Kepada pemeluk teguh

Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut namamu

… (dst).

Yang Terampas dan yang Putus

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,

menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,

malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

… (dst).

Sajak Putih

Bersandar pada tari warna pelangi

Kau depanku bertudung sutra senja

Di hitam matamu kembang mawar dan melati

Harum rambutmu mengalun bergelut senda

… (dst).

Cintaku Jauh di Pulau

Cintaku jauh di pulau,

gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,

di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.

angin membantu, laut terang, tapi terasa

aku tidak ‘kan sampai padanya.

… (dst).

Di Mesjid

Kuseru saja Dia

Sehingga datang juga

Kamipun bermuka-muka

Seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada

Segala daya memadamkannya

… (dst).

Derai-Derai Cemara

Cemara menderai sampai jauh

Terasa hari akan jadi malam

Ada beberapa dahan ditingkap merapuh

Dipukul angin yang terpendam

… (dst).

Selamat Tinggal

perempuan….

Aku berkaca

Ini muka penuh luka

Siapa punya?

… (dst).

Akhir Kehidupan Chairil Anwar

Seperti disebutkan di awal, Chairil Anwar tidak berumur panjang. Belum genap 27 tahun hidup, ia harus mengalah pada berbagai penyakit yang menderanya.

Menurut catatan Rumah Sakit CBZ (sekarang RSCM—Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo) tempat ia dirawat sebelum wafat, Chairil Anwar dilarikan ke rumah sakit karena tifus.

Tapi dari riwayat penyakit yang dideritanya, diduga Chairil Anwar wafat karena TBC. Penyakit inilah yang kemudian memberi dampak buruk pada organ lainnya.

Chairil Anwar wafat pada 28 April 1949 sekira pukul 14:30 WIB. Jenazahnya dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Selama hidup, Chairil Anwar telah menghasilkan 94 karya termasuk 70 puisi.

Related Post

Leave A Comment

seventeen − 12 =