Gado-gado, Jariyah

Maaf Palsu

Posted by Bams

Pernah tidak merasa sudah berbuat baik tapi masih saja dibilang jahat, atau masih saja ada yang benci?

Atau pernah tidak sudah meminta maaf baik di momen lebaran atau di hari yang lain tetapi entah kenapa kamu merasa masih tidak diterima?

Atau pernah tidak merasa ditolak oleh keluarga atau keluarga istri/suami karena satu kesalahan yang bahkan sudah basi untuk diingat? Sementara kamu merasa sudah melakukan banyak hal untuk memperbaikinya. Pernah? Percayalah, ada jutaan orang yang seperti kamu. Bahkan di antara mereka banyak yang masih satu darah alias bersaudara.

Disclaimer: tulisan ini tidak untuk menghakimi, tidak pula untuk merendahkan, tapi syukur2 bisa menyadarkan. Karena sudah tugas kita untuk saling mengingatkan.

Kembali ke laptop!

Masalah dalam keluarga besar kebanyakan disebabkan oleh urusan mulut dan harta. Kalau bukan karena lidah yang keseleo ya karena rebutan harta, entah warisan atau hutang. Hal lainnya bisa karena perilaku ipar, perilaku anak atau memang dasar orangnya ga bisa akur. Merasa hebat semua.

Berselisih paham juga hal yang lumrah terjadi dalam keluarga besar. Tetapi ketika yang bermasalah orangtuanya namun kemudian semua anak2-nya ikut-ikutan memusuhi tanpa menyaring informasi, menyebabkan perselisihan makin luas dan lama, itu TIDAK LUMRAH. Itu jelas MASALAH.

“Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot (tidak menyapa) saudaranya lebih dari 3 hari.” (HR. Bukhari 6237 dan Muslim 2560).

Di atas ada haditsnya, insyaallah shahih.

Saya tidak berani menjelaskan makna dari hadits ini, karena bukan domain saya. Tapi konco2 tentu bisa memahami secara sederhana esensinya, tanpa harus mengonfirmasi ke ustadz. Tapi jika dirasa perlu, silahkan saja. Itu akan lebih baik.

Nah, yang menarik. Banyak perselisihan yang sudah terlanjur meluas di antara keluarga tidak selesai dalam satu, dua atau tiga lebaran. Bahkan mungkin lebih. Artinya sudah bertahun-tahun kebencian itu dibiarkan mendarah daging.

Apakah mereka saling bersalaman saat lebaran? Iya, sama-sama menangis bahkan.

Tapi seperti kentut yang hilang diterbangkan angin, kapan sudah berada di habitatnya masing-masing, benih permusuhan muncul lagi. Terlebih kalau ada pemicu atau yang sengaja memercikkan api kebencian itu lagi. Bisa anak, bisa desas-desus, bisa orang lain atau tetangga. Jika sudah begitu, bak bensin bertemu api, cepat menyambar dan membesar. Padahal yang dipermasalahkan bisa jadi hal yang sama, yang semestinya sudah lebur bersama air mata beberapa hari yang lalu saat lebaran.

Di skala yang lebih kecil, banyak orang yang tidak bermusuhan secara frontal tetapi tidak saling menyukai. Ada banyak alasannya kenapa hal ini bisa terjadi.

Sama persis, ketika bertemu di momen lebaran, mereka ya salam salaman seperti biasa, saling lempar senyum dan sapa. Tapi kapan sudah kembali ke habitatnya, eh masih saja saling sinis.

Jadi apa yang bisa kita pelajari?

Menurut apa yang saya lihat. Ternyata manusia punya kecenderungan untuk menjadi baik ketika terjadi interaksi langsung. Artinya manusia kebanyakan itu ga suka ribut secara frontal. Sebagian besar bisa meredam egonya. Sehingga bisa saling sapa, bercengkrama dan bahkan menangis sama-sama setelah sekian lama saling membenci.

Tetapi manusia juga punya kecenderungan untuk mencari-cari kesalahan. Ketika suasana lebaran mulai pudar, mulailah mode ini pelan-pelan hidup secara otomatis. Kapan ada pemicunya, iapun siap meledak lagi.

Sedikit sekali orang yang memiliki peredam untuk mengecilkan yang besar dan meniadakan yang kecil. Pengalaman dan karakter seseorang jadi pembentuk utamanya. Bukan usia.

Berapa banyak orang2 dengan kematangan usia justru terjebak pada pola di atas. Sementara ada beberapa orang dengan usia yang relatif muda mampu menyaring desas-desus, meredam prasangka dan menekan sifat mencari cari kesalahan.

Kamu ngomong aja bisanya mbeng!!

Ember, aku memang bukan termasuk dari sedikit orang yang punya kemampuan itu. Tapi aku punya pengalaman yang cukuplah untuk mengamati perilaku beberapa keluarga yang berbeda. Kecenderungan itu aku temui di banyak tempat dan keluarga.

Aku juga termasuk orang yang merasa sudah memperbaiki diri tapi masih saja ada yang tidak suka. Tapi, kita tidak boleh menyerah untuk memperbaiki diri, karena saat kita sudah melakukannya dengan maksimal, maka kebaikan2 lain akan datang dari arah dan orang yang berbeda.

Tugas kita jika melakukan kesalahan adalah meminta maaf. Jika mereka memaafkan alhamdulillah. Tapi kalau pemberian maaf mereka ternyata palsu (iya di depan, ngomel di belakang), maka kita berlepas diri dari kebencian2 yang mereka pupuk sendiri.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda :

“Barangsiapa yang didatangi saudaranya yang hendak meminta maaf, hendaklah memaafkannya, apakah ia berada dipihak yang benar ataukah yang salah, apabila tidak melakukan hal tersebut (memaafkan), niscaya tidak akan mendatangi telagaku (di akhirat) (HR Al-Hakim)

Maafkan jika salah kata, semoga dapat memetik hikmahnya. Aku berdoa Mudah2an kita – termasuk diriku – mampu melunakkan hati sehingga mudah mengucapkan maaf dengan tulus dan juga memaafkan dengan ikhlas.

Karena kelak ketika tersesat di akhirat, merekalah (keluarga) yang akan dicari oleh mata kita, dipanggil oleh bibir dan diingat oleh kepala, digenggam oleh tangan, dituntun oleh kaki dan dipeluk oleh badan ini.

Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

Related Post

Leave A Comment

2 × 2 =