Muhammad dalam Berbagai Kitab Suci

By

“Demi Zat, yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidak ada seorang pun dari umat ini, Yahudi, atau Nasrani, yang mendengar tentang diriku lantas mati dalam keadaan tidak beriman dengan risalah yang aku bawa, kecuali pasti ia termasuk penduduk neraka.” (HR Muslim No. 152).

Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam adalah rasul terakhir yang Allah utus untuk seluruh umat manusia. Jika Nabi Musa dan Nabi Isa ‘alayhimussalam diutus untuk Bani Israil, tidak demikian dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam.

Beliau diutus untuk seluruh umat manusia, dengan kitab suci yang menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya, yaitu Al-Qur’an.

Bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus, telah diketahui oleh para nabi sebelum beliau. Allah menyampaikan kepada seluruh rasul-Nya akan kedatangan Muhammad bin Abdullah yang kelak akan menutup risalah kenabian.

Nama Muhammad disebut oleh Nabi Adam ‘alayhissalam

Ibnu Taimiyah mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Abul Faraj Ibnul Jauzi dengan sanad Maisarah, yang mengatakan sebagai berikut:

“Aku pernah bertanya pada Rasulullah: ‘Ya Rasulullah kapankah Anda mulai menjadi Nabi?’ Beliau menjawab: ‘Setelah Allah menciptakan tujuh petala langit, kemudian menciptakan Arsy yang tiangnya termaktub Muhammad rasulullah khatamul anbiya (Muhammad pesuruh Allah penutup para Nabi). Allah lalu menciptakan surga tempat kediaman Adam dan Hawa. Kemudian menuliskan namaku pada pintu-pintunya, dedaunannya, kubah-kubahnya dan tenda-tendanya. 

“Ketika itu Adam masih dalam keadaan antara ruh dan jasad. Setelah Allah menghidupkannya, ia memandang ke Arsy dan melihat namaku. Allah kemudian memberitahu padanya bahwa dia (yang bernama Muhammad itu) anak keturunanmu yang termulia. Setelah keduanya (Adam dan Hawa) terkena bujukan setan mereka bertobat kepada Allah dengan minta syafaat pada namaku.’”

Beberapa kisah juga menyebutkan, bahwa Nabi Adam ‘alayhissalam menikahi Hawa dengan mahar selawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam.

Nama Muhammad di dalam Taurat

(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil. (al-A’raf 157).

Perjanjian Lama (al-‘Ahdu al-Qadim) yang dalam bahasa Belanda disebut Ould Testament, adalah kitab Taurat yang dikenal oleh Yahudi dan Nasrani. Pada salah satu ayat dalam Kitab Ulangan 18:18 tertulis sbb:

Aku akan membangkitkan seorang nabi dari antara saudara mereka, sama seperti engkau. Dan Aku akan menaruh firman-Ku di dalam mulutnya. Dan dia akan mengatakan kepada mereka, apa yang telah Aku perintahkan kepadanya.”

Nubuat tentang kedatangan seorang nabi yang sebenarnya merujuk pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam juga terdapat pada ayat lainnya, yaitu:

  • Kitab Ulangan 33:2
  • Kitab Kidung Agung 5:10
  • Kitab Kidung Agung 5:13
  • Kitab Mazmur 96:1-3
  • Kitab Yesaya 4:1-3
  • Kitab Yesaya 5:26-30
  • Kitab Yesaya 42:1-3
  • Kitab Yesaya 62:2
  • Kitab Habakuk 3:3-7

Meski demikian, baik Taurat maupun Injil telah banyak diubah oleh para rahib dari kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Padahal ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam belum lagi mereka temui, sekumpulan orang Yahudi telah mendatangi tanah Arab untuk menyambut sang nabi terakhir.

Mereka mendapati keterangan dari Taurat bahwa nabi terakhir itu nantinya akan muncul di tanah yang banyak pohon kurma, maka mereka mendatangi Arab tapi akhirnya mendustakan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, karena Muhammad bin Abdullah bukan dari keturunan Bani Israil.

Telah dipahami bahwa Bangsa Yahudi sangat mengagung-agungkan ras mereka. Kalimat “seorang nabi dari antara saudara mereka” yang termaktub dalam Kitab Ulangan, oleh rahib dan pendeta saat ini dianggap sebagai penyangkalan tentang kenabian Muhammad. Sebab Nabi Muhammad ‘alayhissalam adalah keturunan Arab, bukan Yahudi (Bani Israil).

Padahal Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam adalah keturunan Ismail ‘alayhissalam, saudara dari Ishak ‘alayhissalam. Yang mana keduanya adalah anak dari Nabi Ibrahim ‘alayhissalam. Anak keturunan Ishak inilah yang disebut Bani Israil. Bukankah dengan demikian anak keturunan Ismail adalah saudaranya?

Nama Muhammad di dalam Injil

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (al-Baqarah 146).

Perjanjian Baru (al-‘Ahdu al-Jadid) yang dalam bahasa Belanda disebut Niew Testament, tidak lain adalah Injil menurut Kaum Nasrani. Injil yang ada saat ini memiliki berbagai versi, sesuai keinginan para penulisnya.

Sedangkan Injil Barnabas, yang dianggap lebih dekat kepada Islam tidak dianggap sahih oleh kalangan gereja.

Barnabas adalah salah satu dari Hawariyin (para penolong Nabi Isa ‘alayhissalam) yang turut menuliskan ajaran beliau. Dalam kitab kuno yang ditulis pada abad pertama Masehi ini, disebutkan bahwa yang disalib bukanlah Nabi Isa ‘alayhissalam, melainkan Yahuda.

Menurut Barnabas, menjelang kepergiannya, Nabi Isa ‘alayhissalam berpesan agar pengikutnya tidak goyah iman. Karena sejatinya pelindung mereka adalah Allah, bukan beliau.

Adapun tentang ketentuan tugasku, sesungguhnya aku datang untuk menyediakan jalan bagi Rasulullah yang akan datang dengan membawa tugas kelepasan alam ini. (Barnabas 72:10).

Jika Injil Barnabas tidak termasuk dalam Perjanjian Baru, tidak demikian dengan Kitab Yohanes dan Kitab Wahyu, yang juga memuat tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam meski tidak secara gamblang.

Tetapi apabila ia datang, yaitu Roh Kebenaran ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran, sebab ia tidak akan berkata-kata dari dirinya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarnya itulah yang akan dikatakannya dan ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. (Yohanes 16: 13).

Menurut orang-orang Nasrani, yang disebut dengan Roh Kebenaran itu adalah Roh Kudus, salah satu dari Trinitas. Artinya, Roh Kebenaran yang dimaksud ayat tersebut adalah Tuhan.

Bagaimana mungkin Tuhan tidak berkata-kata dari diri-Nya sendiri? Kalimat di atas lebih dekat dengan ayat Al-Qur’an ketimbang Injil versi mana pun.

Dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (an-Najm 3-4).

Lalu aku melihat surga terbuka, sesungguhnya ada seekor kuda putih dan Ia yang menungganginya bernama “Yang Setia dan Yang Benar“ Ia menghakimi dan berperang dengan adil. (Kitab Wahyu 19: 11).

Sebelum menjadi nabi, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam digelari al-Amin karena sifatnya yang masyhur sebagai orang yang dapat dipercaya (yang benar).

Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam paling mungkin menjadi “ia yang menungganginya”. Karena Nabi Isa ‘alayhissalam, bahkan menurut orang Kristen sendiri, tidak pernah berperang.

Nabi Isa ‘alayhissalam juga tidak pernah menaiki kuda putih. Beliau lebih dikenal sebagai pengendara keledai. Maka jelaslah, yang dimaksud dalam kitab-kitab terdahulu tentang hadirnya nabi terakhir adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam.

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (At-Taubah: 128-129).

Leave a Comment