Gado-gado, Jariyah

Siklus

Posted by Bams

Siklus hidup mengajarkan kita bahwa apa yang kita anggap bagus dan keren 5 tahun lalu tidak lagi keren di masa sekarang. Perubahan value ini menandakan kita berkembang tak peduli seberapa cepat zaman berubah.

Perubahan itu biasanya juga disertai dengan pergantian orang2 yang ada di sekitar kita. Teman sekolah digantikan oleh teman kampus dan dalam hitungan kurang dari 5 tahun teman kampus akan tergantikan oleh teman kerja.

Siklus ini berlanjut ke masa transisi di mana kita mulai menjadi khalifah bagi rumah tangga kita sendiri. Dari seorang laki-laki lajang menjadi pria dewasa, tadinya dipanggil bang, mas sekarang dipanggil pak, dan berada dalam pemerintahan terkecil bernama RT. Kita kembali mengalami perkembangan.

Makin berumur, teman mulai mengerucut. Kita merasa kehilangan teman2 di masa lalu yang menghilang satu per satu. Rasa sepi mulai dominan, kendati kehadiran anak-anak terkadang bisa mengisi kekosongan itu. Tapi, anak2 bukanlah teman. Entah bagaimana teman bisa memberikan perasaan yang berbeda.

Ibaratnya, teman itu nasi. Dan anak itu bakso. Meskipun sudah makan bakso 2 mangkok tetap akan bilang belum makan, karena belum ketemu nasi. Sama2 makanan, tapi keduanya berbeda. Tak ada yang lebih baik, karena mereka memang tak sepatutnya diperbandingkan.

Di tahap ini, kekosongan terisi oleh kepasrahan jiwa. Kepasrahan pada yang Kuasa, Tuhan, Allah, atau apapun sebutan yang kalian yakini.

Inilah fase di mana kita banyak memikirkan masa depan. Tentang bagaimana anak2 nanti, seberapa kaya kita nanti, sanggup tidak menafkahi keluarga dengan layak, warisan bagaimana, bagaimana kita akan mati, di mana, kapan dan sakit apa.

Di fase ini, kita berhenti berkembang. Ini adalah fase kemerosotan, di mana kelakuan kembali seperti anak-anak, emosi labil, baperan dan kesehatan menurun. Anehnya, beberapa orang mengalami lagi yang namanya pubersitas, suka dengan daun muda, genit dan napsuan. Kamu jangan gitu ya, cukup aku aja, #eh

Cepat atau lambat, aku, kamu dan kita semua akan melalui semua fase-fase ini. Tapi sedikit sekali yang menyadari betapa cepatnya waktu berlalu. Jadi tak heran kalau kita merasa masih muda, padahal umur kepala empat. Pernah dengar lelucon, “umur boleh tua tp jiwa tetap muda”. Ingat ya, ini lelucon bukan semboyan hidup!

Pertanyaannya, siapkah untuk masuk fase terakhir dalam hidup kita? Yaitu fase kematian.

Fase di mana tiada tempat kembali. Semua perjalanan hidup kita akan berakhir di sini. Pahit atau manis akan menjadi hambar, tak ada bedanya. Tak ada lagi lauk yang terasa nikmat, bahkan bernafas adalah sebuah siksaan.

Saat itu ada di depan mata, semua tampak seperti mimpi saja. Sampai kita kembali terbangun di alam yang lain. Di mana kita akan muda selamanya, namun di sisi kita turut serta konsekuensi atas hidup yang kita jalani di dunia. Konsekuensi berupa kenikmatan atau penderitaan. Keduanya juga akan abadi sebagaimana kebaikan atau keburukan selama di dunia.

Saat itulah kita hanya akan memanggil manggil sesuatu yang selama di dunia tak pernah kita pertanyakan, yaitu AMAL KEBAIKAN.

Related Post

Leave A Comment

thirteen + 12 =