Gado-gado

Waspada Stunting Mengancam Masa Depan Anak!

Posted by Bams

Aku lahir di keluarga yang sederhana, gak terlalu kekurangan tapi pernah nyicip makan nasi dengan tempe doang.  Gak juga berkecukupan, tapi masih bisa makan ayam goreng, bakso dan Bapakku punya motor. Zaman itu, di desaku punya motor udah wah walaupun bunyinya cempreng.

Pun begitu, masa kecilku cukup bahagia. Bisa adu ayam, bisa beli cendol dan makan lontong pecel kesukaan yang bagiku cukup memberi keceriaan tersendiri. Pasar di tempatku adanya seminggu sekali, di hari itulah biasanya aku “berpesta.”

Tapi ya, rumah kami masih beratapkan genteng yang kadang di saat hujan datang justru lebih nyaman tidur di bawah terpal warung di depan rumah ketimbang di kamar.

Mungkin karena alasan itulah Aku dan keempat saudaraku tumbuh serba nanggung, gak tinggi tapi juga gak pendek-pendek amat. Gizi agaknya gak terlalu penting saat itu, yang penting kenyang.

Masalah gizi, waktu itu seingatku gak ada yang benar-benar memikirkannya. Apalagi bagi mamak, menyuruh anak-anaknya makan sama sulitnya dengan mencari nafkah.

Aneh ya, cari makan sulit tapi yang dicariin makan disuruh makan sulit. Hah, kami memang lebih suka bermain ketimbang makan. Gak heran kalau badan gak tinggi-tinggi, dekilnya sih awet.

Mungkin kalau saja Aku hidup di era sekarang, gak mengejutkan kalau aku sudah masuk ke dalam daftar anak penderita stunting. Apa lagi ini?

Akupun coba cari makna kata stunting di web KBBI. Gak nemu!

Terus, cari di Google, gak nemu juga. Maka kemudian Aku mengambil kesimpulan; Aku salah mengira kalo stunting itu bahasa Indonesia.

Benar adanya. Aku lalu buka web Google Translate dan, boom!

Stunting itu bahasa Inggris bro, artinya pengerdilan. Which means, kalau ada anak yang gak bisa tinggi atau kerdil atau cebol, berarti dia dicurigai penderita stunting.

Karena stunting adalah istilah medis, maka Aku coba temukan definisinya di web kesehatan yang reliable. Ternyata menurut Halodokter, Stunting adalah kondisi ketika anak lebih pendek dibandingkan anak-anak lain seusianya, atau dengan kata lain, tinggi badan anak berada di bawah standar.

Standar yang dipakai sebagai acuan adalah kurva pertumbuhan yang dibuat oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Menarik memang, makanya pas YAICI atau Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia ngundang Aku untuk hadir di acaranya yang membahas stunting, gak pake mikir langsung cao ke sana.

Dari pemaparan beberapa pembicara di acara itulah kemudian Aku bisa menyampaikan kembali ke pembaca tentang stunting dan permasalah gizi, salah satunya soal susu kental manis alias SKM, susu yang bukan susu, bukan susu tapi disebut susu. Haish?!

Langsung aja deh ke inti permasalahan.

Apa itu Stunting

Kan tadi udah! Scroll ke atas ya…

Tanda-tandaya Seperti Apa?

  • Tubuh pendek di bawah rata-rata
  • Berat badan tidak naik, malah cenderung turun
  • Pertumbuhan gigi terlambat
  • Kemampuan belajar menurun

Untuk masalah tinggi rata-rata. Para orang tua gak usah bingung mikirin angka, cara paling gampang orang tua bisa mendatangi sekolah tempat anaknya menuntut ilmu.

Kemudian bandingkan tinggi badan anak dengan teman-temannya. Jika tinggi anak cenderung lebih pendek dari kebanyakan teman-temannya, orang tua patut waspada.

Mengapa Stunting Perlu Diwaspadai?

Jelas dong, karena stunting berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak, detailnya antara lain:

  • Menghambat pertumbuhan
  • Penurunan sistem kekebalan tubuh
  • Penurunan fungsi kognitif
  • Gangguan sistem pembakaran lemak

Sedangkan untuk anak yang beranjak dewasa, stunting juga punya ancaman, antara lain:

  • Obesitas
  • Penurunan toleransi glukosa
  • Penyakit jantung koroner
  • Hipertensi
  • Osteoporosis

Mencegah Stunting pada Anak

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, gangguan tumbuh kembang akibat stunting bersifat menetap, yang artinya tidak dapat diatasi.

Namun, kondisi ini sangat bisa dicegah, terutama pada saat 1000 hari pertama kehidupan anak, dengan cara sebagai berikut:

  • Penuhi kecukupan nutrisi ibu selama kehamilan dan menyusui, terutama zat besi, asam folat, dan yodium.
  • Lakukan inisiasi menyusui dini dan memberikan ASI eksklusif.
  • Lengkapi pengetahuan mengenai MPASI yang baik dan menerapkannya.
  • Biasakan perilaku hidup bersih dan sehat dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air, terutama sebelum menyiapkan makanan dan setelah buang air besar atau buang air kecil, meminum air yang terjamin kebersihannya, dan mencuci peralatan makan dengan sabun cuci piring. Semua ini dilakukan untuk mencegah anak terkena penyakit infeksi.

Di Indonesia sendiri, dikutip dari AA.com menurut UNICEF, ada lebih dari 7 juta anak balita Indonesia menderita stunting atau terlalu pendek untuk usia mereka.

Selain itu, dalam laporan State of the World’s Children 2019: Children, food and nutrition, UNICEF menyatakan ada lebih dari 2 juta anak balita kekurangan berat badan atau terlalu kurus untuk tinggi badan mereka.

Dalam laporan yang dipublikasikan hari ini, Selasa, UNICEF juga mengatakan terdapat 2 juta anak balita kelebihan berat badan atau obesitas.

Dari laporan yang sama, sekitar 1 dari 4 remaja menderita anemia, kemungkinan besar karena kekurangan vitamin esensial dan nutrisi seperti zat besi, asam folat dan vitamin A.

Berkenaan dengan konsumsi gula dan garam, secara khusus pemateri menyoroti produk susu kental manis atau SKM.

Keempat pembicara satu suara, sepakat bahwa konsumsi SKM masih jadi momok di Indonesia. Edukasi lagi-lagi jadi tombak yang diharapkan mampu mendobrak pola pikir masyarakat yang masih percaya bahwa SKM adalah susu.

Tapi ya agak aneh ya, karena namanya saja masih disebut sebagai susu sehingga orang awam secara otomatis beranggapan bahwa itu susu, padahal bukan.

Sepertinya penggunaan SKM sebagai sebutan produk tersebut kurag tepat, sehingga hendaknya jadi perhatian walau kesannya sederhana.

Fokus, balik lagi bahas soal SKM.

Mengapa SKM disebut sebagai produk Bukan Susu?

  • Kandungan gulanya tinggi, sampai 50%
  • Sehingga meningkatkan resiko diabetes
  • Gula berlebihan merusak gigi
  • Gizi SKM juga rendah dibandingkan produk susu lainnya. Ya, kan dia memang bukan susu!
  • Kalsium dan protein di SKM sangat rendah

Berdasarkan olahan data yang dirangkum Tim Riset Tirto, hingga saat ini terdapat 9 merek SKM yang beredar di Indonesia, di antaranya adalah Indomilk, Frisian Flag, Ultra Milk, Susu Cap Enak, Carnation, Nestle Cap Nona, Kremer, Tiga Sapi, dan Omela.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) juga sudah mengeluarkan Surat Edaran yang memperketat aturan tentang label dan iklan pada produk Susu Kental dan Analognya.

Mereka memberi batas waktu maksimal sampai November 2018 nanti bagi produsen SKM untuk mengubah tata cara periklanan.

Surat tersebut ditandatangani Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan BPOM RI Suratmo pada 22 Mei 2018 lalu.

BPOM menyinggung dasar kebijakan yang diambil guna melindungi konsumen, utamanya anak-anak dari informasi tidak benar smenyesatkan.

Verdict

  • Nah, pembaca yang pinter-pinter. Yuk, bantu sebarkan informasi ke ibu-ibu di gang dekat rumah, atau sekitar tempat tinggal teman-teman, kasih edukasi dan pemahaman bahwa SKM bukan susu. Jadi, gak pemerintah aja yang kerja keras masuk desa keluar desa untuk mengedukasi masyarakat.
  • ASI masih jadi makanan paling komplet untuk bayi, gratis pula.
  • Makanan seimbang antara karbohidrat, buah dan sayur gak harus yang mahal.
  • Susu yang baik adalah susu segar, susu kedelai, dan susu UHT.

Related Post

Leave A Comment

twelve + six =